Home Soal Jawab Fiqih HUKUM TUKAR GULING TANAH WAKAF

HUKUM TUKAR GULING TANAH WAKAF

6
Oleh: KH. M. Shiddiq Al-Jawi | Pakar Fiqih Kontemporer

 

Tanya :

Assalamualaikum,
Ustadz semoga sehat berkah selalu dalam lindungan Allah SWT. Mohon izin tanya, kalau tukar guling lahan wakaf apakah boleh? Misal tanah 100 meter dilokasi A, ditukar dengan lahan 100 meter di lokasi B. Syukron (Ade Wijaya, Yogyakarta).

 

Jawab:

Wa alaikumus salam wr. wb.
Tidak boleh tukar guling tanah wakaf secara mutlak, baik tanah wakaf ditukar dengan sesama tanah wakaf, maupun tanah wakaf ditukar dengan tanah non wakaf. Semua bentuk tukar guling itu tidak diperbolehkan karena tukar guling termasuk ke dalam jual beli. Padahal sudah diketahui menjual belikan harta wakaf itu haram hukumnya dalam Syariah Islam.

Jadi perlu diketahui bahwa tukar guling itu adalah kegiatan tukar-menukar barang atau aset antarkedua belah pihak secara timbal balik tanpa penambahan uang tunai sebagai selisih harga. (Pasal 1541 KUHPerdata).

Dalam Islam, tukar guling termasuk ke dalam salah satu bentuk jual beli. Hal ini dijelaskan dalam kitab berjudul Mā Lā Yasa’u Yasa’u At-Tājira Jahluhu karya Prof. Dr. Abdullah Al-Mushlih dan Prof. Dr. Shalāh Ash-Shāwī. Diijelaskan dalam kitab tersebut bahwa jual beli itu ada 3 (tiga) bentuk;

Pertama, pertukaran barang dengan barang, atau yang disebut bai’ al-muqāyadhah (barter). Termasuk dalam kategori ini adalah apa yang disebut tukar guling (Bld : ruislag).

Kedua, pertukaran barang dengan uang. Ini yang dikenal secara umum sebagai “jual beli.”

Ketiga, pertukaran uang dengan uang, atau yang disebut sharaf atau money exchange. (Abdullah Al-Mushlih dan Shalāh Ash-Shāwī, Mā Lā Yasa’u Yasa’u At-Tājira Jahluhu, halaman 75).

Jadi, jelaslah bahwa tukar guling itu termasuk ke dalam jual beli. Dan jika yang ditukar gulingkan itu berstatus tanah wakaf, baik tanah wakaf ditukar dengan tanah wakaf juga, maupun tanah wakaf ditukar dengan tanah non wakaf, maka hukumnya haram karena Islam tidak memperbolehkan jual beli barang wakaf.

Dalil syariah yang melarang menjual belikan harta wakaf adalah hadits shahih berikut ini :

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: «أَصَابَ عمرُ أرضًا بِخَيْبَرَ، فَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَسْتَأمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ: يا رسولَ اللهِ، إنِّي أصَبْتُ أرضًا بخَيبَرَ لَمْ أُصِبْ مالاً قَطُّ هُوَ أَنْفَسُ عِنْدِي مِنْهُ، فَمَا تَأْمُرُنِي بِهِ ؟ قَالَ: إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقتَ بِهَا. قَالَ: فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ: أَنَّهُ لاَ يُبَاعُ أَصْلُهَا، وَلاَ يُبْتَاعُ وَلاَ يُورَثُ وَلاَ يُوهَبُ. قَالَ: فَتَصَدَّقَ عُمَرُ فِي الفُقَرَاءِ وَفِي القُرْبَى وَفِي الرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اللهِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالضَّيْفِ، لاَ جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالمَعْرُوفِ، أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ». متفق عليه واللفظ لمسلم. وفي رواية البخاري قال النبي صلى الله عليه وسلم : «تَصَدَّقْ بِأَصْلِهِ: لاَ يُبَاع وَلَكِنْ يُنْفَقُ ثَمَرُهُ فتَصَدَّقَ بِهِ. رواه البخاري  2764

Diriwayatkan dari dari Ibnu Umar RA beliau berkata,”Umar bin Khaththab telah memperoleh sebidang tanah di Khaibar, kemudian beliau menemui Rasulullah SAW untuk menanyakan hal ini. Umar berkata, “Wahai Rasulullah! Saya mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, saya belum pernah mendapatkan harta sebaik itu, maka apakah yang Engkau perintahkan kepadaku?” Rasulullah bersabda,”Bila kau mau, kau tahan tanah tersebut dan engkau sedekahkan (hasil panennya).“ Kemudian Umar menyedekahkan (hasilnya), bahwa ketentuannya (tanah wakaf itu) tidak dijual harta pokoknya, tidak diwariskan dan tidak juga dihibahkan. Umar menyedekahkan (hasilnya) kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, para budak, orang yang berjihad fi sabilillah, orang dalam perjalanan yang kehabisan bekal (ibnu sabil) dan kepada para tamu. Dan tidak dilarang bagi yang diberi kewenangan menguasai tanah wakaf itu untuk mengambil keuntungan darinya dalam kadar yang ma’ruf, atau memberi makan temannya, dengan tanpa maksud untuk menumpuk harta darinya” (Muttafaq ‘Alaih, dan ini lafadz Imam Muslim).

Dalam riwayat Imam Al-Bukhari,“Nabi SAW bersabda,”Sedekahkan (wakafkan) harta pokoknya, tapi jangan dijual namun boleh diinfakkan hasilnya‘, maka Umar pun menyedekahkannya.” (HR. Al-Bukhari, no. 2764).

Sabda Nabi SAW kepada Umar bin Khaththab dalam hadits tersebut yang berbunyi :

( تَصَدَّقْ بِأَصْلِهِ: لاَ يُبَاع وَلَكِنْ يُنْفَقُ ثَمَرُهُ فتَصَدَّقَ بِهِ )

“Sedekahkan (wakafkan) harta pokoknya, tapi jangan dijual namun boleh diinfakkan hasilnya, maka Umar pun menyedekahkannya.” dengan jelas menunjukkan tidak bolehnya menjualbelikan harta wakaf.

Imam Al-Mawardi (ulama mazab Syafi’i) dalam masalah ini telah menegaskan tidak adanya khilāfiyah di kalangan ulama mengenai tidak bolehnya menjualbelikan harta yang telah diwakafkan, sebagai berikut:

شِرَاءُ الْوَقْفِ بَاطِلٌ بِوِفَاقٍ [أي : باتفاق العلماء]

“Menjualbelikan harta wakaf adalah batil (tidak sah/tidak boleh) menurut kesepakatan ulama.” (Imam Al-Māwardī, Al-Hāwī Al-Kabīr, Juz III, halaman 332).
(https://islamqa.info/ar/answers/228381/لا-يجوز-بيع-الوقف-ولا-شراوه)

Kesimpulannya, jelaslah bahwa tidak boleh hukumnya dalam Islam menjualbelikan harta wakaf. Termasuk jual beli, adalah tukar guling, baik tanah wakaf ditukar dengan tanah wakaf juga, maupun tanah wakaf ditukar dengan tanah non wakaf. Wallāhu a’lam.

 

Surakarta, 11 September 2026
Muhammad Shiddiq Al-Jawi