Home Fiqih Fiqih ibadah FIQIH BADAL HAJI

FIQIH BADAL HAJI

65

 

 

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi

 

Yang dimaksud Fiqih Badal Haji adalah hukum-hukum syara’ yang berkaitan dengan orang yang berhaji untuk orang lain (al-ḥajj ‘an al-ghayr), baik orang lain itu masih hidup maupun sudah meninggal dunia.

Beberapa hukum syara’ terpenting dalam Fiqih Badal Haji adalah berikut ini :

( 1 ) Hukum badal haji adalah boleh (jā`iz) asalkan orang yang berhaji untuk orang lain  itu sudah pernah berhaji lebih dulu untuk dirinya sendiri. Jadi tidak boleh seseorang yang belum pernah berhaji untuk dirinya sendiri, berhaji untuk orang lain. Di antara dalilnya adalah sebagai berikut :

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ ﷺ سَمِعَ رَجُلاً يُلَبِّى عَنْ شُبْرُمَةَ فَقَالَ: «وَمَا شُبْرُمَةُ؟». قَالَ: فَذَكَرَ قَرَابَةً لَهُ. قَالَ: فَقَالَ: «أَحَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ». قَالَ: فَقَالَ: لاَ. قَالَ: «فَاحْجُجْ عَنْ نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ»). رواه الدارقطني

Dari ‘A`isyah RA, bahwa Nabi SAW mendengar seorang lelaki mengucapkan talbiyah atas nama Syubrumah. Lalu Rasulullah SAW bertanya “Siapa Syubrumah itu?” Laki-laki itu menyebutkan bahwa Syubrumah itu kerabatnya. Rasulullah SAW bertanya,“Apakah kamu sudah pernah berhaji untuk dirimu sendiri?” Dia menjawab,“Belum.” Maka Rasulullah SAW bersabda,“Berhajilah untuk dirimu sendiri, lalu berhajilah untuk Syubrumah.” (HR. Al-Daraquthni).

عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ سَمِعَ رَجُلاً يَقُولُ: لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ، فَقَالَ: «مَنْ شُبْرُمَةُ؟» فَذَكَرَ أَخاً لَهُ أَوْ قَرَابَةً، قَالَ: «أَحَجَجْتَ قَطُّ؟» قَالَ: لَا، قَالَ: «فَاجْعَلْ هَذِهِ عَنْكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ» أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ في السنن والطبراني في المعجم الكبير.

Dari Sa’id bin Jubayr, dari Ibnu Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW mendengar seorang lelaki berkata “Labbaik ‘an Syubrumah” (Labbaik [aku memenuhi pangilan-Mu Ya Allah], untuk Syubrumah), lalu Rasulullah bertanya “Siapa Syubrumah itu?”. Dia menyebutkan bahwa Syubrumah itu saudaranya atau kerabatnya. Rasulullah SAW bertanya,“Apakah kamu sudah pernah berhaji?” Dia menjawab,“Belum.” Maka Rasulullah SAW bersabda,“Jadikanlah haji ini untuk dirimu sendiri, lalu berhajilah untuk Syubrumah.” (HR. Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud, dan Thabrani, dalam Al-Mu’jam Al-Kabir).

( 2 ) Boleh hukumnya seseorang berhaji untuk orang lain yang sudah meninggal dunia, jika yang meninggal ini di masa hidupnya belum menunaikan kewajiban hajinya. Dalilnya antara lain sebagai berikut :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَتْ: إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ، أَفَأَحُجُّ عَنْهَا؟ قَالَ: «نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا. أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً؟ اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ». رواه البخاري

Dari Ibnu Abbas RA, bahwa seorang perempuan dari Bani Juhainah datang kepada Nabi SAW. Perempuan itu lalu bertanya,”Sesungguhnya ibuku pernah bernadzar ingin melaksanakan ibadah haji, namun dia belum melaksanakan ibadah haji tersebut hingga dia meninggal, apakah aku bisa menghajikannya?” Rasulullah SAW menjawab,”Ya, hajikanlah untuknya. Bagaimanakah pendapatmu, kalau ibumu punya utang, bukankah kamu bisa membayar utang untuk ibumu? Jadi bayarlah utang kepada Allah, karena utang kepada Allah itu lebih berhak untuk ditunaikan.” (HR. Bukhari).

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ – رضي الله عنهما – قَالَ: أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ لَهُ: إِنَّ أُخْتِي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ وَإِنَّهَا مَاتَتْ. فَقَالَ النَّبِىُّ ﷺ: «لَوْ كَانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ؟». قَالَ نَعَمْ. قَالَ: «فَاقْضِ اللَّهَ، فَهْوَ أَحَقُّ بِالْقَضَاءِ» . رواه البخاري

Dari Ibnu Abbas RA, dia berkata,”Telah datang seorang laki-laki kepada Nabi SAW, lalu dia berkata Nabi SAW,”Sesungguhnya saudara perempuanku telah bernadzar untuk berhaji, namun [sekarang] dia telah meninggal dunia. Maka bersabda Nabi SAW,”Kalau saudara perempuanmu itu punya kewajiban utang, apakah kamu bisa membayar utang untuknya?” Laki-laki itu menjawab,”Ya.” Nabi SAW bersabda,”Maka bayarlah utang kepada Allah, karena utang kepada Allah itu lebih berhak untuk ditunaikan.” (HR. Bukhari).

( 3 ) Boleh hukumnya seseorang berhaji untuk orang lain yang masih hidup, jika orang yang digantikan ini tidak mempunyai kemampuan fisik/kesehatan (al-istithā’ah al-badaniyah) untuk berhaji, misalnya mengalami lumpuh, atau stroke, namun dia sudah mempunyai kemampuan finansial (al-istithā’ah al-māliyah), yaitu sudah mempunyai harta yang cukup untuk berangkat naik haji. Dalilnya adalah sebagai berikut :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: جَاءَتْ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخاً كَبِيراً لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى الرَّاحِلَةِ، فَهَلْ يَقْضِي عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ؟ قَالَ «نَعَمْ» رواه البخاري

Dari Ibnu Abbas RA, dia berkata,”Seorang perempuan dari kabilah Khats’am pada saat Haji Wada’ bertanya kepada Rasulullah SAW,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku telah terkena kewajiban haji tapi dia sudah tua renta dan tidak mampu lagi duduk di atas kendaraan, apakah aku boleh berhaji untuk dia?” Rasulullah SAW menjawab,”Ya!” (HR. Bukhari).

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ الْفَضْلِ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي شَيْخٌ كَبِيرٌ عَلَيْهِ فَرِيضَةُ اللَّهِ فِي الْحَجِّ وَهُوَ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى ظَهْرِ بَعِيرِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «فَحُجِّي عَنْهُ». رواه مسلم

Dari Ibnu Abbas RA, dari Al-Fadhl RA, bahwa seorang perempuan dari kabilah Khats’am bertanya,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya ayahku sudah tua renta, sedangkan dia sudah terkena kewajiban haji dari Allah, akan tetapi ayahku sudah tidak mampu lagi duduk di atas untanya.” Maka bersabda Nabi SAW,”Maka berhajilah kamu untuk ayahmu.” (HR. Muslim).

عَنْ أبي رزين العُقَيلي أنه أتى النبيَّ ﷺ، فقال: إنَّ أبي شيخٌ كبيرٌ لا يستطيع الحَجَّ ولا العُمرة ولا الظَّعن، فقال: «حُجَّ عن أبيك واعتَمِر»؛ رواه أحمد وأصحاب السنن، وقال الترمذي: حسن صحيح.

Dari Abu Razin Al-‘Uqaili, bahwa dia pernah mendatangi Nabi SAW lalu berkata,”Sesungguhnya ayahku sudah tua renta, tetapi ayahku sudah tidak mampu lagi berangkat haji atau umrah atau melakukan perjalanan.” Maka bersabda Nabi SAW,”Maka berhaji dan berumrahlah kamu untuk ayahmu.” (HR Ahmad dan Ash-habus Sunan. Imam Tirmidzi berkata,”Ini hadits hasan shahih).

( 4 ) Tidak disyaratkan orang yang berhaji untuk orang lain, adalah kerabat dari orang yang digantikan, melainkan boleh saja orang itu bukan kerabat. Syekh ‘Atha Abu Rasytah bin Khalil berkata menjelaskan hal ini :

لَيْسَ شَرْطًاً أَنْ يَكُونَ الْحَاجُّ عَنْ الْغَيْرِ قَرِيبًاً لِلْمَحْجُوجِ عَنْهُ بَلْ يَجُوزُ مِنْ غَيْرِ الْقَرِيبِ، وَدَلِيلُ ذَلِكَ أَنَّ الرَّسُولَ ﷺ جَعَلَهُ فِي جَوَابِهِ لِلسَّائِلِ وَالسَّائِلَةِ كَالدَّيْنِ، وَسَدَادُ الدَّيْنِ عَنْ الْمَدِينِ يُجْزِئُ مِنْ الشَّخْصِ الْقَرِيبِ وَالْبَعِيدِ مَا دَامَ قَدْ تَمَّ

“Tidak disyatakan orang yang berhaji untuk orang lain adalah kerabat dari orang yang digantikan hajinya, tetapi diperbolehkan juga selain kerabat. Dalilnya adalah bahwa Rasulullah SAW telah menjadikan utang haji (dalam jawabannya kepada penanya baik yang laki-laki maupun yang perempuan dalam masalah ini) serupa dengan utang [harta], padahal pelunasan utang [harta] atas nama debitur hukumnya sah, baik pelunasan itu dilakukan oleh kerabatnya debitur maupun bukan oleh kerabatnya, selama pelunasan itu sudah sempurna terlaksana.” (https://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer-hizb/ameer-cmo-site/75996.html)

( 5 ) Seseorang yang akan berhaji untuk orang lain yang masih hidup, wajib mendapat izin dari orang yang masih hidup tersebut. Para fuqoha tidak berbeda pendapat dalam masalah ini.

Adapun seseorang yang akan berhaji untuk orang lain yang sudah meninggal, ada khilāfiyah di kalangan fuqoha. Sebagian ulama mensyaratkan harus ada wasiat untuk berhaji sebelum orang itu meninggal, sedang sebagian ulama lainnya tidak mensyaratkan adanya wasiat tersebut. Jadi baik ada wasiat maupun tidak ada wasiat, maka boleh hukumnya ada orang lain yang berhaji untuk orang yang sudah meninggal itu.

Pendapat yang rājih adalah pendapat terakhir, sebagaimana pentarjihan Syekh ‘Atha Abu Rasytah bin Khalil, yaitu pendapat ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah, bahwa kalau ada seseorang berhaji untuk orang lain, sedang orang lain itu tidak pernah berwasiat untuk menghajikan dia sebelum dia meninggal, maka hajinya orang itu (pembadal haji) sah. (Al-Mausū’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 17/75).

( 6 ) Orang yang berhaji untuk orang lain, wajib berniat untuk menghajikan orang lain, yakni berniat di dalam hati, dan lebih afdhol lagi kalau dia melafalkan niat itu dengan lidahnya, yaitu dengan mengucapkan kalimat :

أَحْرَمْتُ بِالْحَجِّ عَنْ فُلاَنٍ وَلَبَّيْكَ بِحَجَّةٍ عَنْ فُلاَنٍ

Ahramtu bil hajji ‘an fulan, wa labbayka bi-hajjatin ‘an fulan.” (Aku berniat ihram untuk berhaji atas nama Fulan [sebut namanya], dan aku menyambut seruanmu Ya Allah atas nama Fulan [sebut namanya].” (https://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer-hizb/ameer-cmo-site/75996.html)

( 7 ) Boleh hukumnya orang yang berhaji untuk orang lain, mengambil upah secara ma’ruf, yaitu upah yang besarnya kurang lebih sama dengan upah badal haji yang dilakukan oleh orang lain pada umumnya. Syekh ‘Atha Abu Rasytah bin Khalil berkata :

يَجُوْزُ لِلْحَاجِ عَنِ الْغَيْرِ أَنْ يَأْخُذَ كُلَّ مَا يَحْتَاجُهُ مِنْ نَفَقَةٍ وَالْتِزَامَاتِ الْحَجِّ بِالْمَعْرُوْفِ.

“Boleh hukumnya orang yang berhaji untuk orang lain, mengambil nafaqah (biaya) yang dia perlukan dalam haji secara ma’ruf.” (https://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer-hizb/ameer-cmo-site/75996.html)

( 8 ) Orang yang berhaji untuk orang lain, hanya boleh menghajikan satu orang saja, tidak boleh menghajikan untuk dua orang atau tiga orang atau lebih. Syekh ‘Atha Abu Rasytah bin Khalil berkata :

اَلْحَجُّ عَنِ الْغَيْرِ يَكُوْنُ فَقَطْ عَنْ وَاحِدٍ وَلَيْسَ عَنِ اثْنَيْنِ أَوْ أَكْثَرَ، فَهُوَ يَنُوْبُ عَنِ الْحاَجِ اْلأَصِيْلِ فَالنِّيَّةُ تَكُوْنُ عَنْ وَاحِدٍ.

“Berhaji untuk orang lain hanya boleh untuk menghajikan satu orang saja, tidak boleh menghajikan dua orang atau lebih. Jadi orang yang berhaji untuk orang lain itu mewakili satu orang haji saja, maka niatnya juga atas nama satu orang saja.” (https://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer-hizb/ameer-cmo-site/75996.html).

( 9 ) Orang yang berhaji untuk orang lain ini, hendaklah dipilih dari orang yang jujur dan amanah untuk melaksanakan haji badal, dan niat orang tersebut juga wajib ikhlas lillaahi ta’ala, bukan untuk bekerja mencari uang. Syekh ‘Atha Abu Rasytah bin Khalil berkata :

يَنْبَغِيْ تَحَرِّيُ أَهْلِ الصِّدْقِ وَاْلأَمَانَةِ لِحَجِّ الْبَدَلِ، وَأَنْ تَكُوْنَ نِيِّتُهُ لِلّهِ تَعَالىَ؛ وَلَيْسَ التَّكَسُّبُ

“Hendaknya dicari orang yang jujur dan amanah untuk menghajikan orang lain, dan niat orang itu adalah lillaahi ta’la, bukan untuk bekerja mencari uang…” (https://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer-hizb/ameer-cmo-site/75996.html).

Wallahu a’lam.

 

Yogyakarta, 8 Juni 2023

Muhammad Shiddiq Al-Jawi