Home Soal Jawab Fiqih BOLEHKAH DRIVER OJOL (OJEK ONLINE) MUSLIM MENGANTARKAN MAKANAN DAN MINUMAN HARAM KE...

BOLEHKAH DRIVER OJOL (OJEK ONLINE) MUSLIM MENGANTARKAN MAKANAN DAN MINUMAN HARAM KE PELANGGAN?

52
Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi | Pakar Fiqih Kontemporer

 

Tanya :

Ustadz, bagaimana hukumnya driver ojek online (ojol) muslim mengantarkan makanan dan minuman haram ke pelanggan? (L. Nur Salamah, Batam).

Jawab :

Haram hukumnya bagi driver ojek online (ojol) muslim mengantarkan makanan dan minuman haram ke pelanggan, misalnya khamr (minuman keras), babi, dan sebagainya. Ada 3 (tiga) alasan/sebab sebagai berikut :

Pertama, karena pekerjaan driver ojol mengantarkan makanan dan minuman yang haram kepada pelanggan tersebut, merupakan pertolongan (bantuan) kepada pelanggan itu untuk melakukan perbuatan yang haram. Padahal Allah SWT sudah melarang seorang muslim untuk memberi pertolongan kepada orang lain untuk berbuat dosa atau maksiat, sesuai firman Allah SWT :

وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ

“Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS Al-Mā`idah ; 2).

Kaidah fiqih –yang di-istinbāth (digali) dari ayat tersebut oleh Imam Ibnu Taimiyah (w. 728/1328)– menyebutkan :

 

اَلْإِعاَنَةُ عَلىَ الْحَراَمِ حَراَمٌ

“Memberi pertolongan untuk melakukan perbuatan yang haram, hukumnya haram.” (Arab : Al-I’ānatu ‘alā al-harāmi harām[un]). (Ibnu Taimiyah, Al-Fatāwā Al-Kubrā, Juz VI, hlm. 313).

 Kedua, karena pekerjaan driver ojek online itu sendiri, yaitu mengantarkan makanan dan minuman haram ke pelanggan, merupakan pekerjaan yang haram ditinjau dari segi objek akad (al-ma’qūd ‘alayhi) dalam akad ijarah (bekerja dengan upah) itu sendiri, terlepas dari pelanggannya, apakah pelanggan itu muslim maupun nonmuslim. Mengantarkan babi sebagai makanan yang haram dimakan, atau mengantarkan khamr sebagai minuman yang haram diminum, merupakan pekerjaan yang haram bagi seorang muslim. (Taqiyuddin An-Nabhani, Al-Nizhām Al-Iqtishādi fī Al-Islām, hlm. 93).

Imam Taqiyuddin An-Nabhani (w. 1398/1977) menyebutkan kaidah fiqih :

لاَ تَجُوْزُ إِجاَرَةُ اْلأَجِيْرِ فِيْماَ مَنْفَعَتُهُ مُحَرَّمَةٌ

“Tidak boleh melakukan akad ijarah [bekerja dengan upah] dengan seorang pekerja pada segala manfaat/jasa yang telah diharamkan.” (Arab: lā tajūzū ijārat al-ajīr fīmā manfa’atuhu muharramah). (Taqiyuddin An-Nabhani, Al-Nizhām Al-Iqtishādi fī Al-Islām, hlm. 93).

Kaidah fiqih dengan makna yang sama, sudah pernah juga dikemukan sebelumnya oleh Imam Al-Sarakhsī (w. 483/1090) penulis kitab fiqih Al-Mabsūth sebagai berikut :

اَلإِسْتِئْجاَرُ عَلىَ الْمَعْصِيَةِ لاَ تَجُوْزُ

“Mempekerjakan pekerja untuk melakukan perbuatan maksiat, tidak boleh.” (Arab : al-isti`jār alā’ al-ma’shiyati lā tajūzu). (Imam Al-Sarakhsī, Al-Mabsūth, Juz XV, hlm. 43).

Imam Abu Ishaq Al-Syirazī (w. 476/1083) dalam kitabnya Al-Muhadzdzab dan Imam Nawawi (w. 676/1277) dalam kitabnya Al-Majmū’ sebagai syarah untuk kitab Al-Muhadzdzab, juga pernah mengemukakan kaidah fiqih yang semakna dengan redaksi :

لاَ تَجُوْزُ اْلإِجاَرَةُ عَلىَ الْمَناَفِعِ الْمُحَرَّمَةِ

“Tidak boleh akad ijarah pada segala bentuk manfaat [jasa] yang diharamkan syariah.” (Arab: lā tajūzu al-ijāratu ‘alā al-manāfi’ al-muharramah).(Imam Abu Ishaq Al-Syirazī, Al-Muhadzdzab fī Fiqh Al-Imām Al-Syāfi’ī, Juz II, hlm. 243; Imam Nawawi, Al-Majmū’ Syarah Al-Muhadzdzab, Juz XV, hlm. 251).

Ketiga, karena pekerjaan driver ojol tersebut adalah perantaraan (al-wasīlah) yang akan membawa kepada yang haram, yaitu perbuatan pelanggan untuk memakan makanan atau minuman yang haram. Padahal segala sesuatu yang menjadi perantaraan (al-wasīlah) kepada yang haram, hukumnya juga haram, sesuai kaidah fiqih :

اَلْوَسِيْلَةُ إِلىَ الْحَرَامِ حَرَامٌ

“Segala perantaraan (al-wasīlah) kepada yang haram, hukumnya haram juga.” (Arab : al-wasīlatu ilā al-harāmi harām[un].” (Muhammad Shidqi Al-Burnu, Mausū’ah Al-Qawā’id Al-Fiqhiyyah, Juz VIII, hlm. 775).

Kesimpulan, berdasarkan 3 (tiga) alasan di atas, jelaslah bahwa haram hukumnya bagi driver ojek online (ojol) muslim mengantarkan makanan dan minuman haram ke pelanggan, seperti khamr (minuman keras), babi, dan sebagainya, baik pelanggannya muslim maupun nonmuslim (kafir), seperti orang Nashrani, Yahudi, dan sebagainya. Wallāhu a’lam.

 

Jakarta, 30 Juni 2024 
Muhammad Shiddiq Al-Jawi