Home Fiqih Fiqih ibadah AMALAN-AMALAN UTAMA BULAN SYAWAL, UNTUK MENJAGA SEMANGAT RAMADHAN

AMALAN-AMALAN UTAMA BULAN SYAWAL, UNTUK MENJAGA SEMANGAT RAMADHAN

48

 

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi

 

Tanya :

Ustadz, amalan-amalan utama apa di bulan Syawal, yang kiranya bisa menjaga semangat ibadah di bulan Ramadhan yang lalu? (Hamba Allah).

 

Jawab :

Sebelum dijawab, perlu dipahami dulu, bahwa menjaga amal-amal shaleh, yakni meneruskan amal shaleh yang pernah dilakukan dan tidak meninggalkannya, merupakan sesuatu yang mustaab (disunnahkan).

Dalilnya hadits berikut ini :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ

Dari ‘A`isyah RA, dia berkata,”Jika Rasulullah SAW telah melakukan suatu amal (aktivitas amal shaleh), maka beliau berusaha melanggengkannya (menjadikannya rutin/kontinyu).” (HR Muslim, no. 746; Ibnu Hibban, no. 2646).

Juga berdasarkan sabda Rasulullah SAW :

 

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amal yang paling dicintai Allah, adalah amal yang paling langgeng (kontinyu) dilakukan, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari, no. 6464; Muslim, no. 783).

Juga berdasarkan dalil hadits sbb :

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ : يَا عَبْدَ اللهِ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ. رواه البخاري ومسلم

Dari Abdullah bin ‘Amar bin al-’Ash RA, dia berkata,”Telah bersabda Rasulullah SAW kepadaku,’Hai Abdullah, janganlah kamu seperti Fulan, dia pernah sholat malam, lalu dia meninggalkan sholat malam itu.” (HR Bukhari, no. 1152; Muslim, no. 1159).

Adapun amalan-amalan utama apa di bulan Syawal, yang kiranya bisa menjaga semangat ibadah di bulan Ramadhan yang lalu, di antaranya adalah sbb :

Pertama, berpuasa sunnah enam hari pada bulan Syawal.

Kedua, sholat lail (tahajjud).

Ketiga, sholat berjamaah.

Keempat, bersedekah.

Kelima, membaca Al-Qur`an.

 

Pertama, Puasa Sunnah Enam Hari Di Bulan Syawal

Disunnahkan berpuasa selama enam hari pada bulan Syawal, baik dilaksanakan secara berturut-turut maupun tidak berturut-turut. Sabda Rasulullah SAW :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang telah berpuasa pada bulan Ramadhan, lalau dia melanjutkannya dengan berpuasa enam hari pada bulan Syawal, maka puasa ini seperti puasa sepanjang tahun.” (HR Muslim, no. 1164).

Puasa ini boleh dilakukan sebelum seseorang mengqadha’ puasa Ramadhan yang ditinggalkannya, meski yang afdhol adalah mengqadha’ puasa Ramadhan lebih dulu.

 

Kedua, Sholat Lail (Tahajjud)

Disunnahkan melakukan sholat lail atau sholat tahajjud. Firman Allah SWT :

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Isra` : 79).

Jumlah rakaatnya tidak ada batasan tertentu, tetapi sholat ini dilaksanakan dua rakaat, dua rakaat. Demikian penjelasan Imam Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Ahkāmush Sholāt (hlm. 64).

Sabda Rasulullah SAW :

صَلاَةُ الَّليِلِ مَثْنَى مَثْنَى. رواه البخاري 990، ومسلم 749

“Sholat lail itu dilakukan dua rakaat dua rakaat.” (HR Bukhari, no. 990; Muslim, no. 749).

 

Ketiga, Sholat Berjamaah

Sholat berjamaah hukumnya fardhu kifayah. Demikian menurut Imam Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Ahkāmush Sholāt (hlm. 71).

Dalil wajibnya, sabda Rasulullah SAW :

مَا مِنْ ثَلاَثَةٍ فِى قَرْيَةٍ وَلاَ بَدْوٍ لاَ تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلاَةُ إِلاَّ قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُلُ الذِّئْبُ الْقَاصِي

“Tidaklah tiga orang berada di suatu kampung di kota ataupun kampung di desa (pedalaman), yang tidak ditegakkan shalat berjamaah di tengah mereka, maka niscaya mereka akan dikuasai oleh setan. Hendaklah engkau melaksanakan shalat berjamaah, karena sesungguhnya serigala itu hanya memakan kambing yang memisahkan diri dari kelompoknya.” (HR. Abu Dawud, no. 547 dan An-Nasa’i, no. 848).

 

Keempat, Bersedekah

Pengertian sedekah (Al-Shadaqah) :

اَلصَّدَقَةُ هِيَ تَمْلِيْكٌ غَيْرُ الفَرْضِ فِي الْحَيَاةِ لِمُحْتَاجٍ بِنِيَّةِ التَّقَرُّبِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى

“Shadaqah adalah memberikan hak milik kepada orang yang sifatnya tidak wajib pada saat pemberinya masih hidup bagi orang yang membutuhkan dengan niat untuk bertaqarrub kepada Allah SWT.” (Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughat Al-Fuqohā`, hlm. 243).

Sedekah di sini maknanya adalah sedekah sunnah (tathawwu’), bukan sedekah wajib (zakat).

Dalil sunnahnya bersedekah sangat banyak, di antaranya sabda Rasululllah SAW :

فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَّقِيَ النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

“Maka barangsiapa di antara kamu yang mampu, hindarilah neraka sekalipun hanya dengan bersedekah sebelah biji kurma.“ (HR Bukhari, no. 6058).

 

Kelima, Membaca Al-Qur`An

Disunnahkan banyak membaca Al-Qur`an. Rasulullah ﷺ bersabda :

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِه

“Bacalah oleh kamu Al-Qur’an. Karena ia (Al-Qur’an) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.” (HR. Muslim, no. 804).

Namun hindarkanlah memanfaatkan Al-Qur`an untuk mencari makan, misalkan menjadi guru untuk membaca Al-Qur`an dengan mengambil upah, karena hukumnya makrūh (kurang baik secara syariah), sebagaimana penjelasan Imam Taqiyuddin An-Nabhani, dalam kitabnya Al-Nizhām Al-Iqtishādi fi Al-Islām (hlm. 95-96).

Dalam satu hadits Rasulullah SAW telah melarang mencari makan dengan Al-Qur`an, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

إقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، وَلاَ تَغْلُوْا فِيْهَ|ِ، وَلاَ تَجْفُوْا عَنْهُ، وَلاَ تَأْكُلُوْا بِهِ، وَلاَ تَسْتَكْثِرُوْا بِهِ

“Bacalah Al-Quran, janganlah berlebihan padanya, jangan berpaling darinya, jangan kalian jadikan ia untuk mencari makan, dan jangan kalian jadikan ia alat untuk memperkaya diri.” (HR Ahmad, no. 15117, hadits shahih).

Hadits ini telah memberi celaan (dzamm), atau dengan kata adalah suatu larangan (nahī), kepada orang yang mencari makan dengan Al-Qur`an. Namun larangan ini bukanlah larangan yang tegas (jāzim), atau berhukum haram, karena ada qarīnah (petunjuk) bahwa larangan itu tidaklah bersifat tegas (haram). Jadi larangan yang ada hanya larangan makruh, bukan larangan haram.

Qarīnah (petunjuk) ini terdapat dalam sabda Rasulullah SAW :

إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ

“Sesungguhnya upah yang paling berhak kalian ambil adalah upah karena (mengajarkan) Kitabullah.” (HR Bukhari no. 5296). Wallāhu a’lam.

 

Yogyakarta, 5 Mei 2023

Muhammad Shiddiq Al-Jawi