Home Fiqih Fiqih ibadah NIAT DALAM BERZAKAT

NIAT DALAM BERZAKAT

2
Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi | Pakar Fiqih Kontemporer

 

Tanya :

Ustadz, mohon dijelaskan bagaimana niat dalam berzakat itu? (F. Ferdiansyah, Yogyakarta)

 

Jawab :

Pertama harus dipahami bahwa niat dalam berzakat itu hukumnya wajib. Imam An-Nawawi menegaskan bahwa zakat adalah ‘ibādah mahdhah (ibadah ritual murni) sekaligus ‘ibādah māliyyah (ibadah harta), sehingga wajib hukumnya didasari niat berdasarkan hadits masyhur, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda :

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal-amal (‘ibadah) itu bergantung pada niat-niatnya.” (HR. Al-Bukhari, no. 1; Muslim, no.1907).

Imam Nawawi dalam masalah niat ini menegaskan : 

لَا يَصِحُّ أَدَاءُ الزَّكَاةِ إلَّا بِالنِّيَّةِ، وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَالأَوْزَاعِيُّ وَالثَّوْرِيُّ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَأَحْمَدُ وَدَاوُد وَجَمَاهِيرُ الْعُلَمَاءِ… لِأَنَّهَا عِبَادَةٌ، فَلَمْ تَصِحَّ مِنْ غَيْرِ نِيَّةٍ كَالصَّلَاةِ.

“Tidak sah menunaikan zakat kecuali dengan niat. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam Al-Awzā’i, Imam al-Tsawri, Imam Abu Hanīfah, Imam Ahmad, Imam Dāwūd, serta jumhur (mayoritas) ulama… karena zakat itu merupakan ibadah, maka zakat itu tidak sah jika tanpa niat, sama halnya dengan shalat.” (Imam Nawawi, Al-Majmū’ Syarah Al-Muhadzdzab, Juz VI, halaman 157-158, Bab Qasmi As-Shadaqāt).

Pengertian niat itu menurut syariah dalam mazhab Syafi’i, misalnya dalam kitab Al-Majmū’ Syarah Al-Muhadzdzab, karya Imam Nawawi, Juz I, halaman 352–353, adalah qashdu syai’in muqtaranan bi fi’lihi (قَصْدُ الشَّيْءِ مُقْتَرَناً بِفِعْلِهِ) artinya menyengaja melakukan sesuatu (perbuatan) yang berbarengan dengan (awal) perbuatannya. Misalnya, menghadirkan maksud shalat di dalam hati tepat berbarengan pada saat seseorang mengucapkan takbīratul ihrām.

Niat berbeda dengan azam. Jika niat itu berbarengan dengan perbuatan, maka ‘azam tidak berbarengan dengan perbuatannya, melainkan ada jeda atau jarak waktu antara ‘azam untuk melakukan perbuatan, dengan perbuatannya itu sendiri. Jadi azam itu lebih dulu daripada perbuatannya, bukan berbarengan. Misalnya seseorang berkeinginan dalam hati untuk naik haji tahun depan, maka ini disebut ‘azam, bukan niat.

Mengenai niat berzakat, pembahasannya ada rincian (tafshīl) hukumnya sebagai berikut :

Jika seseorang membagi zakat malnya sendiri, tanpa mewakilkan kepada seorang wakil, maka dia wajib berniat dalam hati pada saat menyerahkan harta zakat secara langsung kepada para mustahiq zakat yang berhak menerima zakat. Misalnya orang fakir, orang miskin, dan sebagainya, sesuai firman Allah SWT yang menerangkan delapan golongan yang berhak menerima zakat :

إِنَّمَا ٱلصَّدَقَـٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَٱلْمَسَـٰكِينِ وَٱلْعَـٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَـٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, orang yang dilunakkan hatinya (mu`allaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah (jihad) dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan (yang kehabisan bekal), sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.” (TQS. Al-Taubah : 60)

Adapun jika seseorang tidak membagi zakat malnya sendiri, melainkan mewakilkan kepada seorang wakil, maka mengenai niatnya ada ketentuan sebagai berikut:

Pertama, muzakki berniat dalam hati pada saat menyerahkan harta zakat kepada wakilnya.

Kedua, wakil berniat dalam hati pada saat menyerahkan harta zakat kepada para mustahiq zakat yang berhak menerima zakat, misalnya orang fakir, orang miskin, dan sebagainya. (Lihat TQS Al-Taubah : 60).

Bagaimana jika yang berniat hanya muzakki, sementara wakilnya tidak berniat pada saat menyerahkan harta zakat kepada para mustahiq? Menurut Imam Nawawi, pendapat yang lebih shahih adalah tidak apa-apa, yang penting orang yang berzakat (muzakki) sudah berniat niat pada saat menyerahkan zakat kepada wakilnya. Namun yang lebih baik (afdhol), wakil ini juga berniat pada saat menyerahkan zakat kepada para mustahiq zakat.

Imam Nawawi dalam masalah ini telah mengatakan :

وَتَكْفِي نِيَّةُ الْمُوَكِّلِ عِنْدَ الصَّرْفِ إِلَى الْوَكِيلِ فِي الْأَصَحِّ، وَالْأَفْضَلُ أَنْ يَنْوِيَ الْوَكِيلُ عِنْدَ التَّفْرِيقِ أَيْضًا.

“Dan niat orang yang mewakilkan (muwakkil) sudah mencukupi ketika menyerahkan harta kepada wakil menurut pendapat yang paling sahih (al-ashahh). Namun, yang lebih utama adalah wakil juga berniat ketika membagikan harta tersebut (kepada yang berhak).” (Imam Nawawi, Raudhat Al-Thālibīn, Cet. Al-Maktab Al-Islami, Juz II, halaman 209). Wallāhu a’lam.

 

Yogyakarta, 27 Oktober 2026
Muhammad Shiddiq Al-Jawi