Home Aqidah KRITIK ATAS ATEISME MENURUT PERSPEKTIF ISLAM

KRITIK ATAS ATEISME MENURUT PERSPEKTIF ISLAM

6

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi

 

Fenomena Ateisme

Banyak fenomena ateisme di sekitar kita, baik dulu maupun sekarang. Sekitar awal September 2026 yang lalu, teman kami yang menjadi dosen agama Islam di sebuah perguruan tinggi negeri terkenal di Bandung, menceritakan bahwa ada sebagian mahasiswanya yang terang-terangan mengaku ateis. Tidak percaya adanya Tuhan. Mereka sekedar ikut kuliah bukan karena iman kepada Islam, namun sekedar ingin mendapat nilai mata kuliah Pendidikan Agama Islam, yang diampu oleh dosen teman kami itu.

Ketika kami menjadi santri PP. Nūrul Imdād sekitar tahun 1991 di Babakan Fakultas Bogor, pengasuhnya guru kami KH. Ahmad Zaini Dahlan pernah bercerita bahwa saat zaman PKI tahun 1960-an, guru-guru TK sudah mengajarkan ateisme kepada murid-muridnya. Dikisahkan oleh beliau, ada seorang guru TK berkata kepada murid-muridnya,”Anak-anak, coba berdoa kepada, Ya Tuhan saya minta permen.” Maka murid-muridnya berdoa,”Ya Tuhan saya minta permen.” Lalu gurunya bertanya,”Nah, anak-anak bagaimana, apakah kalian diberi permen oleh Tuhan?” Murid-murid dengan polos menjawab serempak,”Tidaaaaak!” Gurunya lalu menyimpulkan,”Nah, berarti Tuhan itu tidak ada ya, karena tidak bisa memberi permen.”

Rudy, seorang teman SMA kami yang lulus SMA tahun 1988 bercerita, ketika dia kuliah di Semarang tahun 1990-an, ada teman satu kos dia dari Magelang, yang terang-terangan mengatakan tidak percaya adanya Tuhan. A’ang, juga teman seangkatan SMA kami, pernah bercerita pengalaman kerjanya di era 2000-an, ketika dia berjumpa dengan seorang ateis dari India. Waktu itu dia sedang ada suatu pekerjaan di India, dan ada temannya dari India yang mau presentasi suatu proyek. Teman kami itu mengatakan,”Semoga sukses ya (good luck),” kepada teman Indianya itu. Dia menjawab,”Maaf ya saya tidak percaya adanya Tuhan yang menentukan nasib kesuksesan seseorang. Sukses atau tidak itu hanyalah hasil kerja dari usaha kita sendiri.” Mendengar itu, teman kami itu hanya bisa tersenyum kecut.

Tulisan kami ini bertujuan agar kita meningkatkan kewaspadaan kita terhadap fenomena ateisme tersebut, yang sesungguhnya adalah racun pemikiran yang sangat berbahaya dan destruktif, dengan memberikan semacam “antidote” (anti racun) berupa kritik-kritik terhadap ateisme tersebut dari sudut pandang Islam.

 

Pengertian Ateisme

Ateisme secara etimologi (makna bahasa) berasal dari Bahasa Yunani, dari kata “a” yang berati “tidak”, dan kata “theos” yang berarti “Tuhan.” Jadi “ateisme” secara etimologi berarti “tidak ada tuhan” atau “tanpa tuhan.” (https://id.wikipedia.org/wiki/Ateisme)

Adapun secara  terminologi definisi ateisme adalah :

Atheism is the belief that God (or gods) does not exist. (Stanford Encyclopedia).

Ateisme adalah suatu keyakinan bahwa Tuhan (atau tuhan-tuhan) itu tidak ada. (https://plato.stanford.edu/entries/atheism-agnosticism/)

 

Ateisme ini berbeda dengan agnotisisme. Seorang agnostis (penganut agnotisisme) sebenarnya tidak secara tegas menolak keberadaan Tuhan, melainkan sekedar berkeyakinan bahwa tidak ada jalan atau cara untuk mengetahui keberadaan Tuhan. Jadi seorang ateis mempunyai keyakinan (belief) bahwa tuhan itu tidak ada, sementara seorang agnostis bisa disebut orang bingung karena tidak tahu jalan untuk mengetahui adanya Tuhan.

Ateisme ini sering sejalan dengan paham Materialisme, yang menjadi aqidah (pemikiran dasar) dari ideologi Sosialisme (termasuk Komunisme). Disebut sejalan, karena jika seseorang menganut Materialisme maka konsekuensinya dia akan menolak keberadaan segala sesuatu non-materi atau yang tidak dapat diindera, seperti malaikat, setan, surga, neraka, bahkan Tuhan.

 

Definisi Materialisme secara ide atau filsafat adalah :

 “Materialism is view that all that exists is matter and depends on matter for its existence.”

“Materialisme adalah suatu pandangan bahwa segala sesuatu yang ada itu hanyalah materi, dan bergantung pada materi untuk keberadaannya.” (Andi Muawiyah Ramly, Peta Pemikiran Karl Marx, 2004; https://id.wikipedia.org/wiki/Materialisme).

 

Namun faktanya tidak selalu orang sosialis atau komunis (seperti anggota PKI Partai Komunisme Indonesia) adalah orang ateis. Boleh jadi orang sosialis atau komunis itu menganut ide yang tercabang dari Materialisme, yaitu Dialektika Materialisme dan Historis Materialisme, tetapi pada waktu yang sama dia tetap mengakui keberadaan Tuhan. Ini jelas suatu bentuk sinkretisme idelogis yang mustahil secara akli namun secara faktual dimungkinkan terjadi. Contoh sinkretisme batil ini misalkan ide “Sosialisme Religius” baik yang versi zaman dulu ala H.O.S. Tjokroaminoto dalam bukunya Islam dan Sosialisme (terbit November 1924), maupun yang versi kekinian seperti digagas oleh Muhidin M. Dahlan dalam buku antologi (kumpulan artikel) yang dieditnya berjudul Sosialisme Religius : Suatu Jalan Keempat? (terbit tahun 2002).

Mengapa orang menjadi ateis? Mengapa dia tidak percaya bahwa Tuhan itu ada? Jawabannya sangat sederhana : karena Tuhan itu tidak dapat dilihat dengan mata. Menurut cara berpikir kaum ateis, sesuatu yang tidak dapat dibuktikan dengan panca indera, dianggap tidak ada (inexists). Jadi sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan mata, tidak dapat didengar dengan telinga, tidak dapat diraba dengan indera perasa, dan seterusnya, maka sesuatu yang tidak terjangkau oleh pancaindera secara umum, diyakini tidak ada.

 

Kritik Islam Atas Ateisme

Terhadap paham ateisme yang kufur tersebut, dapat diberikan sejumlah kritik dari perspektif Islam sebagai berikut;

 

Pertama, Al-Qur`an sendiri menegaskan bahwa Allah memang tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Namun Allah yang tidak dapat dilihat dengan mata manusia itu, tak berarti Allah itu tidak ada, justru Allah itu ada dan sungguh ada, dan bahkan Dia dapat melihat semuanya.

Firman Allah SWT :

لَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ

“Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat menjangkau segala penglihatan itu. Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Teliti.” (QS. Al-An’ām : 103).

 

Kedua, Al-Qur`an sendiri menegaskan bahwa Allah tidak mungkin dilihat oleh manusia di dunia, bahkan manusia atau alam semesta akan binasa atau dibinasakan ketika Allah menampakkan diri-Nya kepada mereka.

Firman Allah SWT :

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ

“Dan (ingatlah) ketika kamu (Bani Israil) berkata (kepada Musa), “Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas,” maka halilintar menyambarmu, sedang kamu menyaksikannya.” (QS. Al-Baqarah : 55).

Firman Allah SWT :

وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِى وَلَٰكِنِ ٱنظُرْ إِلَى ٱلْجَبَلِ فَإِنِ ٱسْتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوْفَ تَرَىٰنِى ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَٰنَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُؤْمِنِينَ

 “Dan tatkala Musa datang untuk (bermunajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa,”Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.” Allah berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika dia tetap di tempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu akan dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, Allah menjadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata,”Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.” (QS. Al-A’rāf : 143).

 

Ketiga, Al-Qur`an menegaskan bahwa Allah itu akhirnya akan dapat dilihat oleh mata manusia, namun bukan saat ini di dunia ini, melainkan nanti di surga bagi penghuni surga.

Penghuni surga kelak akan mendapat tambahan (ziyādah) kenikmatan di atas berbagai kenikmatan surga, seperti makanan, minuman, pakaian, istana, perhiasan, bidadari, dan sebagainya. Tambahan kenikmatan (ziyādah) itu tiada lain adalah dapat melihat-Nya.

Firman Allah SWT :

لِلَّذِيۡنَ اَحۡسَنُوا الۡحُسۡنٰى وَزِيَادَةٌ ؕ وَلَا يَرۡهَقُ وُجُوۡهَهُمۡ قَتَرٌ وَّلَا ذِلَّـةٌ ​ ؕ اُولٰٓٮِٕكَ اَصۡحٰبُ الۡجَـنَّةِ​ ۚ هُمۡ فِيۡهَا خٰلِدُوۡنَ‏

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) dalam kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yūnus : 26)

 

Keempat, apa yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindera, seperti apa yang tak dapat dilihat dengan mata, atau apa yang tidak dapat dijangkau telinga, tidak berarti tidak ada. Ini karena panca indera manusia itu terbatas.

Contoh : pendengaran manusia, hanya dapat menjangkau suara dalam rentang (range) tertentu, yakni dari 20 Hertz hingga 20.000 Hertz. Jadi suara infrasonik di bawah 20 Hertz (misalnya suara semut yang berjalan di liangnya) dan suara ultrasonik di atas 20.000 Hertz (misalnya suara cuitan kelelawar saat terbang), benar-benar ada (exists), tetapi tidak dapat didengar oleh manusia.

Contoh lain : indera mata atau penglihatan manusia juga terbatas. Apa yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia, tidak berarti tidak ada. Misalnya jasad renik (mikroorganisme) seperti bakteri. Ukuran rata-rata bakteri berkisar antara 0,5 hingga 5 mikrometer (µm). Dalam satu mililiter air tawar saja, terdapat satu juta sel bakteri.

Nah, bakteri yang sangat kecil seperti ini tidak dapat dilihat oleh manusia dengan mata telanjangnya, hanya dapat dilihat dengan bantuan alat mikroskop. Jadi, bakteri memang tidak dapat dapat dilihat oleh mata telanjang manusia, namun bukan berarti bakteri itu tidak ada. Bakteri ini benar-benar ada (exists), hanya saja ada keterbatasan panca indera manusia yang akhirnya membuat manusia tidak dapat melihatnya.

Jadi manusia memang tidak dapat melihat bakteri, namun bukan berarti bakteri itu tidak ada, bukan? Demikian juga orang buta sejak lahir, dia tidak dapat melihat matahari. Namun bukan berarti matahari itu tidak ada, bukan? Jadi keterbatasan pada indera manusia, mengakibatkan manusia tidak dapat menjangkau keberadaan sesuatu yang sebenarnya benar-benar ada.

Orang ateis juga demikian, ketika dia tidak dapat melihat Allah, bukan berarti Allah itu tidak ada. Kesimpulan batil ini terjadi karena adanya keterbatasan atau lebih tepatnya kerusakan pada cara berpikir (the way of thinking) manusia ateis, yang terlalu lugu dan naif sekaligus terlalu sombong mengandalkan panca indera manusia yang terbatas, sebagai dasar untuk berpikir mengenai eksistensi sesuatu.

Firman Allah SWT :

 يَعۡلَمُوۡنَ ظَاهِرًا مِّنَ الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا وَهُمۡ عَنِ الۡاٰخِرَةِ هُمۡ غٰفِلُوۡنَ‏

“Mereka (orang kafir) mengetahui yang lahir (tampak, empiris) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap (kehidupan) akhirat mereka itu lalai.” (QS. Al-Rūm : 7).

 

Kelima, dalam hal keimanan kepada Allah (al-imān billāh), harus dibedakan dua macam keimanan, yang dalil keimanannya berbeda untuk masing-masing keimanan;

  • Iman kepada adanya Allah (al-imān bi wujūdillāh), dalilnya adalah dalil aqli.
  • Iman kepada sifat-sifat dan nama-nama Allah (al-imān bi shifātillāhi wa asmā`ihi), dalilnya adalah dalil naqli. (Syekh Muhammad Husain Abdullah, Dirāsāt fī Al-Fikr Al-Islāmī, halaman 37).

Pengertian dalil aqli adalah :

الدَّلِيلُ الْعَقْلِيُّ هُوَ الْبُرْهَانُ الَّذِي يَسْتَعْمِلُهُ الْعَقْلُ مِنْ أَجْلِ الْوُصُولِ إِلَى التَّصْدِيقِ الْجَازِمِ بِرُكْنٍ مِنْ أَرْكَانِ الْعَقِيدَةِ.

“Dalil Aqli adalah bukti yang dipergunakan akal untuk sampai kepada pembenaran yang pasti terhadap satu rukun dari rukun-rukun Aqidah Islamiyyah.” (M. Husain Abdullah, Dirāsāt fī Al-Fikr Al-Islāmī, hlm. 36).

Sedang pengertian dalil naqli adalah:

الدَّلِيلُ النَّقْلِيُّ هُوَ الْخَبَرُ الْقَطْعِيُّ الَّذِي يُخْبِرُنَا عَنْ رُكْنٍ مِنْ أَرْكَانِ الْعَقِيدَةِ، كَالْآيَاتِ الْقُرْآنِيَّةِ.

“Dalil Naqli adalah berita yang qath’ī (pasti) yang memberitahukan kepada kita mengenai satu rukun dari rukun-rukun Aqidah Islamiyyah, seperti ayat-ayat Al-Qur`an.” (M. Husain Abdullah, Dirāsāt fī Al-Fikr Al-Islāmī, hlm. 36).

 

Keenam, iman kepada adanya Allah (al-imān bi wujūdillāh), dalilnya adalah dalil aqli, yaitu alam semesta yang dapat kita indera, sebagai bukti adanya Allah di balik segala keteraturan yang terdapat di alam semesta.

Perhatikan gambar berikut yang mengilustrasikan bagaimana metode berpikir manusia untuk dapat mencapai keimanan mengenai adanya Allah dengan melakukan pengamatan terhadap fenomena keteraturan alam semesta, sebagai jalan (metode) untuk sampai pada keimanan mengenai adanya Allah.

Gambar di atas menunjukkan bagaimana Islam memberi petunjuk jalan kepada manusia untuk sampai kepada keimanan mengenai adanya Allah. Caranya adalah manusia itu melakukan pengamatan dan studi terhadap alam semesta, seperti pergerakan benda-benda langit semisal matahari dan bumi, keteraturan sistemik pada dunia binatang dan tumbuhan (flora dan fauna), bahkan keteraturan yang sangat complicated (canggih) pada diri manusia itu sendiri, seperti sistem pencernaannya, sistem peredaran darahnya, sistem sarafnya, bahkan strukrur mikroskopois pada manusia itu sendiri, seperti DNA atau gen, semua keteraturan itu tidaklah mungkin terjadi secara kebetulan (coincidence), melainkan terjadi karena pengaturan yang sifatnya sengaja dan terencana dari Sang Pencipta dan Sang Pengatur (Al-Khāliq Al-Mudabbir), yaitu Allah Subhānahu wa Ta’ālā.

Firman Allah SWT :

 اِنَّ فِىۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ وَاخۡتِلَافِ الَّيۡلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal.” (QS. Āli ‘Imrān : 190).

Firman Allah SWT :

 وَفِى الۡاَرۡضِ اٰيٰتٌ لِّلۡمُوۡقِنِيۡنَۙ‏ وَفِىۡۤ اَنۡفُسِكُمۡ​ؕ اَفَلَا تُبۡصِرُوۡنَ‏

“Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Al-Dzāriyāt : 20-21).

Dari sinilah, kita akan menyadari betapa hebatnya sya’ir yang sederhana tapi sangat mendalam, yang konon digubah oleh seorang Arab Baduwi berikut ini :

 اَلْبَعْرَةُ تَدُلُّ عَلَى الْبَعِيْرِ، وَالْأَثَرُ يَدُلُّ عَلَى الْمَسِيْرِ

“Kotoran unta menunjukkan adanya unta, dan jejak langkah menunjukkan adanya orang yang berjalan.” (Taqiyuddin Al-Nabhani, Al-Tafkīr, 1973).

Jadi, argumentasi sederhana mengenai adanya Allah, dapat dicermati dari alur logika ilustrasi berikut ini:

Gambar di atas sebelah kiri menunjukkan robot humanoid yang canggih, yaitu robot yang dirancang memiliki bentuk fisik, struktur, dan kemampuan yang menyerupai tubuh manusia (mempunyai kepala, badan, dua lengan, dan dua kaki mirip manusia). Robot ini mempunyai struktur antropomorfik, maksudnya memiliki anatomi mirip manusia agar kompatibel dengan lingkungan, peralatan, dan infrastruktur yang dibuat khusus untuk manusia tanpa perlu modifikasi besar.

Robot ini mempunyai komponen penggerak (atau aktuator) dengan menggunakan aktuator listrik, hidrolik, atau pneumatik, yang berfungsi menyerupai otot dan sendi pada manusia. Dan robot ini, mempunyai sensor dan kecerdasan buatan (AI, artificial intelligence) yang memungkinkan robot ini untuk mengenali objek, berinteraksi secara natural, dan belajar dari lingkungannya.

Namun robot yang teramat canggih ini jelas tidak mungkin ada dengan sendirinya secara kebetulan. Robot humanoid ada penciptanya, yang merancang segala macam kecanggihan yang ada. Robot humanoid moderen (ASIMO) diketahui telah dirancang oleh perusahaan otomotif asal Jepang, yaitu Honda, yang diperkenalkan pada tahun 2000. Kemudian, berbagai robot humanoid modern lanjutannya saat ini dirancang dan diproduksi oleh berbagai perusahaan teknologi global, seperti UBTech Robotics (seri UW U1), AiMOGA Robotics dengan dukungan riset Chery Group (robot Mobo), serta perusahaan lain seperti Boston Dynamics, Tesla, dan lainnya.

Nah, kelanjutan dari logika sederhana tersebut, lihat gambar di bawah ini :

Jadi, maksudnya, bahwa robot humanoid itu pasti ada perancangnya, maka bagaimana dengan manusia yang menjadi perancang robot humanoid itu sendiri? Padahal manusia itu jauh lebih canggih dan jauh lebih complicated dibandingkan robot humanoid ciptaannya. Sudah pasti manusia itu bukan tercipta dengan sendirinya secara kebetulan (coincidence), melainkan ada yang dengan sengaja telah menciptakannya. Dialah Sang Pencipta dan Sang Pengatur (Al-Khāliq Al-Mudabbir), yaitu Allah Subhānahu wa Ta’ālā. Firman Allah SWT :

 وَفِى الۡاَرۡضِ اٰيٰتٌ لِّلۡمُوۡقِنِيۡنَۙ‏ وَفِىۡۤ اَنۡفُسِكُمۡ​ؕ اَفَلَا تُبۡصِرُوۡنَ‏

“Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Al-Dzāriyāt : 20-21).

Alur logika pembuktian adanya Allah yang seperti itu, pernah diriwayatkan dalam kisah perdebatan antara Imam Abu Hanifah, rahimahullāh, dengan sebagian orang zindiq waktu itu. Dalam kitab Tafsīr Ibnu Katsīr Juz I halaman 197 diriwayatkan kisah menarik tersebut sebagai berikut :

عَنْ أَبِي حَنِيفَةَ أَنَّ بَعْضَ الزَّنَادِقَةِ سَأَلُوهُ عَنْ وُجُودِ الْبَارِي تَعَالَى، فَقَالَ لَهُمْ: دَعُونِي فَإِنِّي مُفَكِّرٌ فِي أَمْرٍ قَدْ أُخْبِرْتُ عَنْهُ، ذَكَرُوا لِي أَنَّ سَفِينَةً فِي الْبَحْرِ مَمْلُوءَةً فِيهَا أَنْوَاعٌ مِنَ الْمَتَاجِرِ، وَلَيْسَ أَحَدٌ يَحْرُسُهَا وَلَا يَسُوقُهَا، وَهِيَ مَعَ ذَلِكَ تَذْهَبُ وَتَجِيءُ وَتَسِيرُ بِنَفْسِهَا، وَتَخْتَرِقُ الْأَمْوَاجَ الْعِظَامَ، حَتَّى تَتَخَلَّصَ مِنْهَا، وَتَسِيرَ حَيْثُ شَاءَتْ بِنَفْسِهَا، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَسُوقَهَا أَحَدٌ. فَقَالُوا: هَذَا شَيْءٌ لَا يَقُولُهُ عَاقِلٌ، فَقَالَ: وَيْحَكُمْ هَذِهِ الْمَوْجُودَاتُ بِمَا فِيهَا مِنَ الْعَالَمِ الْعُلْوِيِّ وَالسُّفْلِيِّ، وَمَا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ مِنَ الْأَشْيَاءِ الْمُحْكَمَةِ لَيْسَ لَهَا صَانِعٌ!! فَبُهِتَ الْقَوْمُ وَرَجَعُوا إِلَى الْحَقِّ وَأَسْلَمُوا عَلَى يَدَيْهِ. (تفسير ابن كثير ج 1 ص  (١٩٧

Diriwayatkan dari Imam Abu Hanifah bahwa beberapa kaum zindiq pernah bertanya kepada Imam Abu Hanifah mengenai keberadaan Sang Pencipta, Subhānahu wa Ta’ālā (Maha Suci dan Maha Tinggi Dia). Imam Abu Hanifah menjawab, “Berilah saya waktu sejenak, saya sedang memikirkan suatu perkara yang baru saja disampaikan kepada saya. Ada kabar yang sampai kepada saya bahwa di tengah lautan terdapat sebuah kapal yang sarat dengan berbagai macam barang dagangan, namun tidak ada seorang pun yang menjaga atau mengemudikannya. Meski demikian, kapal itu terus bergerak maju-mundur, mengarungi gelombang besar, membelahnya, dan melaju ke mana pun ia mau, semuanya terjadi dengan sendirinya, tanpa ada satu pun pihak yang mengarahkannya.” Orang-orang zindiq tersebut berseru, “Tidak ada orang berakal yang akan mengatakan hal seperti itu!” Imam Abu Hanifah kemudian menimpali, “Celakalah kalian! Lantas, bagaimana mungkin kalian menyatakan bahwa seluruh alam semesta ini—dengan segala isinya, baik yang ada di langit maupun di bumi, serta segala sesuatu di dalamnya yang dirancang dengan begitu rumit— semua itu bisa ada tanpa adanya Sang Pencipta?” Mereka pun terperangah, kemudian mereka kembali kepada kebenaran dan memeluk Islam melalui perantara Imam Abu Hanifah. (Tafsīr Ibnu Katsīr, Juz I, halaman 197).

(https://saadalkhathlan.com/quotations/13506).

 

Penutup dan Kesimpulan

Di sekitar kita sebenarnya banyak fenomena ateisme yang sangat perlu kita waspadai dan kita sikapi. Fenomena ini seolah-olah tidak terlihat, tetapi sebenarnya ada dan sangat memprihatinkan sekaligus sangat membahayakan.

Disebut sangat memprihatinkan, karena mereka itu hidup dalam masyarakat muslim yang penuh dengan seruan dakwah Islam, tapi ternyata menganut pemikiran yang sesat dan menyesatkan. Mungkin juga mereka menjadi ateisme karena sangat kecewa melihat umat Islam yang jauh dari pengamalan ajarannya, misalnya pemimpin yang kelihatannya Islami, pakai peci, dari ormas Islam yang konon besar sekali anggotanya, sangat Pancasialis (mengaku “Saya Pancasila”), sangat NKRI, sangat memfinalkan NKRI sebagai harga mati, eh lha kok ternyata dia hanya seorang koruptor yang bermoral bejat, suka mengambil uang atau harta yang bukan hak dia, suka main wanita, suka minum khamr, dan sebagainya.

Dan disebut sangat membahayakan, karena mereka yang ateis itu tentu tidak akan menjadikan agama Islam, atau agama secara umum, sebagai pedoman hidupnya. Boleh jadi mereka akan menjadi kaum Sosialis atau Komunis yang dalam sejarahnya berperilaku sangat kejam dan biadab serta sangat jauh dari perikemanusiaan dan perikeadilan. Rezim Joseph Stalin di Uni Soviet (1921–1953), misalnya, dikabarkan banyak membunuh jiwa manusia guna memaksakan paham komunisnya. Estimasi korban jiwa akibat kekejaman Stalin sebelum tahun 1991 (sebelum arsip dibuka), adalah sekitar 20 juta jiwa atau lebih akibat eksekusi, kerja paksa, dan kelaparan. Namun setelah arsip dibuka setelah Uni Soviet runtuh (tahun 1991), korban Stalin konon katanya “hanya” sekitar 3,3 juta jiwa.

(https://en-wikipedia-org.translate.goog/wiki/Excess_mortality_under_Joseph_Stalin?)

Meski korban kekejaman Stalin “hanya” 3,3 juta jiwa, katakanlah itu valid, sesungguhnya jumlah ini dalam pandangan Islam sudah terlalu sangat banyak. Karena dalam pandangan Islam, satu jiwa muslim saja yang terbunuh, nilainya di sisi Allah lebih besar daripada bumi dengan seluruh isi-isinya. Rasulullah SAW bersabda :
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Sungguh hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya satu jiwa seorang muslim.” (HR. Al-Tirmidzī, no. 1395; Al-Nasā`ī, no. 3987; Al-Bukhārī dalam Al-’Ilalu Al-Kabīr, hlm. 219).

(https://dorar.net/hadith/sharh/119431).

 

Di sinilah, kita nampaknya perlu menyadari, bahwa kaum ateis itu tentu memerlukan upaya dakwah kita umat Islam, dengan dakwah yang rasional dan cerdas, bukan dakwah yang isinya indoktrinasi yang kaku dan memaksa, yaitu menggunakan apa yang disebut “hikmah” dalam ayat dakwah yang terkenal dalam QS An-Nahl ayat 125 yang berbunyi :

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَأَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِين

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah (argumen rasional) dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Nahl : 125). Wallāhu a’lam bi al-shawāb.

 

 

Yogyakarta, 20 Oktober 2026

 Muhammad Shiddiq Al-Jawi