Home Siyasah MENOLAK WAJIBNYA KHILAFAH DENGAN KAIDAH DAR’UL MAFĀSID MUQADDAMUN ‘ALĀ JALBIL MAṢĀLIḤ, BOLEHKAH?

MENOLAK WAJIBNYA KHILAFAH DENGAN KAIDAH DAR’UL MAFĀSID MUQADDAMUN ‘ALĀ JALBIL MAṢĀLIḤ, BOLEHKAH?

82

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi

 

Pendahuluan

Ada ulama yang menolak wajibnya Khilafah, dengan menggunakan kaidah fiqih yang berbunyi دَرْءُ اْلَمَفاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ (dar’ul mafāsid muqaddamun ‘alā jalbil maṣāliḥ). Maksudnya, menolak kerusakan (dar’ul mafāsid), yaitu meninggalkan perjuangan menegakkan Khilafah yang dianggap menimbulkan kerusakan, lebih didahulukan daripada meraih kemashlahatan (jalbil maṣāliḥ), yaitu tegaknya Khilafah.

Wajibnya Khilafah sesungguhnya tidak dapat ditolak dengan kaidah fiqih dar’ul mafāsid muqaddamun ‘alā jalbil maṣāliḥ, dengan sejumlah alasan yang akan diuraikan dalam 4 (empat) poin kritik berikut ini.

Kritik Pertama

Penggunaan kaidah fiqih tersebut tidak dapat diterima, dikarenakan pengamalan kaidah fiqih itu kedudukannya selevel dengan pengamalan dalil Qiyas, yaitu tidak boleh diamalkan jika bertentangan dengan yaitu naṣ-naṣ Al-Qur`an dan Al-Sunnah. (Taqiyuddīn An-Nabhānī, Al-Shakhṣiyyah Al-Islāmiyyah, Beirut : Dār Al-Ummah, Cetakan III, 2005/1426, III/452).

Dalam konteks ini, penggunaan kaidah fiqih tersebut tertolak karena bertentangan dengan naṣ-naṣ Al-Qur`an dan Al-Sunnah yang mewajibkan Khilafah.

Imam Taqiyuddīn An-Nabhānī, rahimahullah, menjelaskan :

فَالْقَوَاعِدُ الْكُلِّيَّةُ تُعَامَلُ مُعَامَلَةَ الْقِيَاسِ ، فَكُلُّ مَا انْطَبَقَتْ عَلَيْهِ الْقَاعِدَةُ يَأْخُذُ حُكْمَهَا ، إلَّا أَنْ يَرِدَ نَصٌّ شَرْعِيٌّ عَلَى خِلَافِ مَا فِي الْقَاعِدَةِ ، فَيُعْمَلُ بِالنَّصّ، وَتُلْغَى الْقَاعِدَةُ كَمَا هِيَ الْحَالُ فِي الْقِيَاسِ

“Qawā’id Kulliyyah (qawā’id fiqhiyyah) itu diamalkan sebagaimana pengamalan Qiyas, maka segala kasus yang dapat dihukumi dengan suatu qaidah fiqih, kasus itu dapatlah dihukumi dengan hukum dalam qaidah fiqih tersebut, kecuali terdapat suatu nash syar’i (nash Al-Qur`an atau nash As-Sunnah) yang menyalahi hukum yang terdapat di dalam qaidah fiqih itu. Dalam kondisi demikian, yang diamalkan adalah nash, sedangkan qaidah fiqihnya dibatalkan, sebagaimana ketentuan yang berlaku dalam pengamalan Qiyas.” (Taqiyuddīn An-Nabhānī, Al-Shakhṣiyyah Al-Islāmiyyah, III/452).

Contoh kasus pengamalan qawā’id fiqhiyyah yang dibatalkan karena bertentangan dengan nash, misalnya pengamalan qawā’id fiqhiyyah اَلضَّرَرُ يُزَالُ  yang berarti segala bentuk mudharat wajib untuk dihilangkan, untuk menolak pelaksanaan ḥudūd dan qiṣāṣ, dengan alasan pelaksanaan ḥudūd dan qiṣāṣ dapat menimbulkan berbagai bahaya (dharar). Misalnya, terpotongnya tangan pencuri, atau dicambuknya pelaku zina yang ghayru muḥṣan (belum menikah), atau terbunuhnya pelaku liwāṭ (homoseksual), atau terbunuhnya pembunuh karena dikenai hukum qiṣāṣ, terbunuhnya orang yang murtad karena dikenai hukuman mati sesuai hukum Islam, dsb.

Pengamalan kaidah fiqih اَلضَّرَرُ يُزَالُ  untuk menolak menolak atau menghapuskan wajibnya ḥudūd dan qiṣāṣ tersebut justru merupakan pengamalan yang batil dan tidak dapat diterima secara mutlak.

Mengapa demikian? Karena pengamalan kaidah fiqih itu jelas bertentangan dengan nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah yang justru mensyariatkan kewajiban ḥudūd dan qiṣāṣ. Misal nash QS Al-Baqarah : 178 tentang wajibnya qiṣāṣ, dan QS Al-Maidah : 38 tentang wajibnya sanksi potong tangan pencuri. (Khālid bin ‘Abdurrahmān Al-’Askar, Al-Mustathnayāt min Al-Qawā’id Al-Fiqhiyyah Al-Kulliyyah, Riyadh : Jami’at Al-Malik Sa’ūd, 1430 H, hlm. 199).

Demikian pula mengamalkan kaidah fiqih dar’ul mafāsid muqaddamun ‘alā jalbil maṣāliḥ untuk menolak wajibnya Khilafah, jelas pengamalan qawā’id fiqhiyyah yang dibatalkan dan tidak dapat diterima secara mutlak, karena bertentangan dengan nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah, serta dalil-dalil syar’i lainnya, yaitu Ijma’ dan Qawaid Syar’iyyah yang mewajibkan Khilafah, sebagaimana penjelasan Syekh ‘Abdullah Al-Dumayjī yang menegaskan :

وُجُوْبُ اْلإِمَامَةِ ثَابِتٌ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَةِ وَاْلإِجْمَاعِ وَالْقَوَاعِدِ الشَّرْعِيَّةِ

”Wajibnya Imamah [Khilafah] telah ditetapkan berdasarkan dalil Al-Kitab, As-Sunnah, Ijma’, dan Qawā’id Syar’iyyah.” (‘Abdullah Al-Dumayjī, Al-Imāmah Al-‘Uzhmā ‘Inda Ahlis Sunnah wa Al-Jamā’ah, Riyādh : Dār Thaybah, Cetakan II, 1408 H, hlm. 45).

Rincian nash-nash Al-Qur`an dan nash-nash As-Sunnah yang mewajibkan Khilafah telah banyak dijelaskan oleh para ulama, di antaranya oleh Syekh Abdullah Al-Dumayjī dalam kitabnya Al-Imāmah Al-‘Uzhmā ‘Inda Ahlis Sunnah wa Al-Jamā’ah. Silakan dirujuk bagi yang ingin mendalami masalah ini.

Kritik Kedua

Pengamalan kaidah fiqih dar’ul mafāsid muqaddamun ‘alā jalbil maṣāliḥ untuk menolak wajibnya Khilafah juga tidak dapat diterima dari segi lain, yaitu pengamalan kaidah fiqih tidak dibolehkan jika bertentangan dengan dalil-dalil syar’i yang lebih kuat.

Jika pengamalan suatu kaidah fiqih bertentangan dengan dalil-dalil yang lebih kuat, maka otomatis kaidah fiqih tersebut harus dikesampingkan dan tidak boleh diamalkan. (Sharah Al-Qawā’id Al-Fiqhiyyah li Al-Sa’di, https://halakat.taimiah.org/index.aspx?function=Printable&id=5626&node=17778).

Dalam kitab Sharah Al-Qawā’id Al-Fiqhiyyah li Al-Sa’di dijelaskan syarat-syarat pengamalan kaidah fiqih (qawa’id fiqhiyyah) sebagai berikut :

أَيْضًا مِنْ شُروطِ تَطْبيقِ القاعِدَةِ – وَهَذَا مُهِمٌّ – : أَنْ لَا يُعارِضَ القاعِدَةَ مَا هوَ أَقْوَى مِنْهَا أَوْ مِثْلُها ، فَلَوْ وَرَدَ فِي الفَرْعِ الفِقْهيِّ اَلَّذِي نُرِيدُ إِدْراجَهُ فِي القاعِدَةِ لَوْ وَرَدَ فِيه نَصٌّ شَرْعيٌّ خاصٌّ مُعْتَدٌ بِهِ أَوْ وَرَدَ فِي هَذِهِ المَسْأَلَةِ إِجْماعٌ أَوْ وَرَدَ فِيهَا قاعِدَةٌ فِقْهيَّةٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهَا أَوْلَى مِنْ هَذِهِ القاعِدَةِ اَلَّتِي نُرِيدُ إِلْحاقَ الفَرْعِ بِهَا ؛ فَحِينَئِذٍ لَا نَعْمَلُ بِالْقَاعِدَةِ اَلْفِقْهيَّةِ

(halakat.taimiah.org/index.aspx?function=Printable&id=5626&node=17778).

Artinya : “Dan juga, termasuk syarat-syarat pengamalan kaidah fiqih, dan ini penting, bahwa tidak boleh ada dalil yang lebih kuat atau dalil yang semisal yang bertentangan dengan suatu kaidah fiqih. Maka jika di dalam suatu cabang fiqih yang hendak dihukumi dengan suatu kaidah fiqih terdapat suatu nash syar’i yang khusus yang mu’tabar, atau terdapat suatu ijma’, atau terdapat kaidah fiqih [lain] yang telah disepakati lebih kuat daripada kaidah fiqih yang hendak diamalkan itu, maka dalam kondisi demikian, kita tidak dapat mengamalkan kaidah fiqih tersebut.”

(https://halakat.taimiah.org/index.aspx?function=Printable&id=5626&node=17778).

Dengan demikian jelaslah bahwa pengamalan kaidah fiqh dar’ul mafāsid muqaddamun ‘alā jalbil maṣāliḥ untuk menolak wajibnya Khilafah, tidak dapat diterima secara mutlak. Mengapa? Karena pengamalan kaidah fiqih itu bertentangan dengan dalil-dalil yang lebih kuat yang mewajibkan Khilafah, yaitu dalil-dalil dari Al-Qur`an, As-Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan Qawaid Syar’iyyah. Sekali lagi kami sampaikan dalil-dalil ini telah dirinci oleh banyak ulama, di antaranya oleh Syekh Abdullah Al-Dumayjī dalam kitabnya Al-Imāmah Al-‘Uzhmā ‘Inda Ahlis Sunnah wa Al-Jamā’ah. Silakan dirujuk.

Kritik Ketiga

Pengamalan kaidah fiqih dar’ul mafāsid muqaddamun ‘alā jalbil maṣāliḥ ada ketentuannya, tidak boleh diterapkan sembarangan, yaitu hanya diterapkan perkara-perkara yang hukum asalnya mubah (dibolehkan syariah), tetapi meski hukumnya boleh, terdapat kemungkinan terjadinya keharaman, maka diutamakan tidak melakukan yang mubah itu, daripada melakukan yang mubah tetapi dapat terjadi keharaman. Jadi, penerapan kaidah fiqih ini pada sesuatu yang wajib, yaitu wajibnya Khilafah, yang semestinya untuk hal yang boleh (mubah), sungguh suatu kekeliruan besar dan penerapan yang tidak pada tempatnya.

Contoh-contoh pengamalan kaidah fiqih dar’ul mafāsid muqaddamun ‘alā jalbil maṣāliḥ :

  1. Membuka jendela di rumah kita, adalah boleh (mubah). Namun jika kita membuka jendela rumah kita dan membuat kita dapat melihat aurat tetangga kita, maka sikap yang benar adalah kita tidak membuka jendela terebut.
  2. Memasang alat penggiling (thahun) atau pemeras anggur di rumah kita adalah boleh (mubah). Namun jika kita memasang dan menggunakan alat-alat tersebut dan dapat mengganggu tetangga kita dengan bau dan asapnya, maka penggunaan alat-alat tersebut tidak dibolehkan.
  3. Membuat tempat sampah di halam rumah kita adalah boleh (mubah). Tetapi jika tempat sampah itu menimbulkan bau yang tidak sedap dan mengganggu tetangga kita, maka kita tidak dibolehkan membuat tempat sampah tersebut. (Lihat contoh-contoh penerapan kaidah ini dalam kitab Syekh Mushtofa Ahmad Az-Zarqā’, Sharah Al-Qawā’id Al-Fiqhiyyah, Damaskus : Dar Al-Qalam, 1409/1979, hlm. 205).

Dari contoh-contoh tersebut, pengamalan kaidah fiqih dar’ul mafāsid muqaddamun ‘alā jalbil maṣāliḥ hanya diterapkan perkara-perkara yang hukum asalnya mubah (dibolehkan syariah), tetapi mengandung potensi terjadinya keharaman. Maka sungguh tidak pada tempatnya, atau salah alamat, jika kaidah fiqih tersebut diterapkan untuk sesuatu yang hukumnya wajib, seperti wajibnya Khilafah, dengan maksud untuk menolak wajibnya Khilafah. Ini jelas penyalahgunaan kaidah fiqih yang salah alamat dan tidak pada tempatnya.

Kritik Keempat

Pengamalan kaidah fiqih dar’ul mafāsid muqaddamun ‘alā jalbil maṣāliḥ untuk menolak wajibnya Khilafah, jelas bertentangan dengan Ijma’ Shahabat yang sudah mewajibkan Khilafah. Padahal para ulama telah menjelaskan bahwa wajibnya Khilafah itu telah ditetapkan berdasarkan dalil-dalil syar’i yang sah dan mu’tabar, di antaranya Ijma’ Shahabat.

Dalam kitab Al-awa’iqul Muhriqah, Imam Ibnu Hajar Al-Haitami menyatakan :

إِعْلِمْ أَيْضًا أَنَّ الصَّحابَةَ رِضْوانُ اللَّهِ عَلَيْهُمْ أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ نَصْبَ الإِمامِ بَعْدَ انْقِراضِ زَمَنِ النُّبوَّةِ واجِبٌ ، بَلْ جَعَلُوهُ أَهَمَّ الوَاجِبَاتِ حَيْثُ اشْتَغَلوا بِهِ عَنْ دَفْنِ رَسولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهُ وَسَلَّمَ

”Ketahuilah juga, para shahabat Nabi SAW telah berijma’ (bersepakat) bahwa mengangkat seorang Imam (Khalifah) setelah berakhirnya zaman Kenabian adalah wajib, dan mereka menjadikan kewajiban itu sebagai kewajiban terpenting karena mereka menyibukkan diri dengan urusan itu dengan menunda penguburan jenazah Rasulullah…” (Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-awa’iqul Muhriqah, hlm. 7).

Menentang Ijma’ Shahabat tidak dibolehkan secara syariah, sesuai keterangan-keterangan para ulama sebagai berikut :

Pertama, penjelasan Imam Sarakhshi dalam kitab Ushul As-Sarakhsi :

وقال السرخسي رحمه الله : ” لَا يَجُوزُ مُخالَفَةُ الإِجْماعِ بِرَأْيٍ يَعْتَرِضُ لَهُ بَعْدَمَا انْعَقَدَ الإِجْماعُ بِدَلِيلِهِ ” انتهى . أصول السرخسي (1/308)

Imam As-Sarakhsi rahimahullah berkata, “Tidak boleh menyalahi Ijma’ [Ijma’ Shahabat] dengan suatu pendapat yang bertentangan dengan Ijma’ itu setelah terjadinya Ijma’ [Ijma’ Shahabat] dengan disertai dalilnya.” (Imam Sarakhsi, Uṣūl Al-Sarakhsī, 1/308).

Kedua, penjelasan Syaikh Muhammad Ibnu Utsaimin dalam syarah kitabnya Al-Uṣūl min Ilmi Al-Uṣūl :

وقال الشيخ محمد بن عثيمين رحمه الله في شرح كتابه الأصول من علم الأصول : ” لَوْ أَجْمَعَ الصَّحابَةُ عَلَى قَوْلٍ ، فَهَذَا الإِجْماعُ يَمْنَعُ مِنْ حُدوثِ خِلافٍ.” الأصول من علم الأصول (ص 498)

 

Syaekh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah dalam syarah kitabnya Al-Uṣūl min Ilmi Al-Uṣūl berkata, “Kalau terjadi Ijma’ Shahabat dalam suatu pendapat, maka Ijma’ ini melarang adanya pendapat yang berbeda.” (Syaikh Muhammad Ibnu Utsaimin, Al-Uṣūl min Ilmi Al-Uṣūl, hlm. 498).

Kesimpulan

Berdasarkan kritik-kritik yang telah diuraikan di atas, jelaslah bahwa wajibnya Khilafah sesungguhnya tidak dapat ditolak dengan kaidah fiqih dar’ul mafāsid muqaddamun ‘alā jalbil maṣāliḥ. Penggunaan kaidah fiqih ini untuk menolak wajibnya Khilafah sungguh tidak pada tempatnya, hanya mempermainkan ilmu untuk mencari kebatilan, serta hanya menipu dan membodohi umat Islam agar mengikuti paham anti-Islam dengan kedok kaidah fiqih yang diperalat dengan cara yang sesat dan menyesatkan. Wallāhu a’lam.

Jakarta, 3 Desember 2022

M. Shiddiq Al Jawi