
Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi
Tanya :
Ustadz, ketika ada calon jamaah haji yang mengajukan pembiayaan kepada Bank Muamalat uuntuk pinjaman DP haji khusus, akad yang digunakan adalah akad qardh (pinjaman). Jamaah haji tersebut lalu mengembalikan pinjaman itu tanpa ada kelebihan dana dalam kurun waktu yang disepakati. Namun Bank Muamalat menarik ujroh (fee) dengan akad ijāroh dari nasabah tersebut untuk mendaftarkan dan mendapatkan porsi haji dari Kementerian Haji. Proses ini dilakukan melalui travel. Apakah ini boleh, Ustadz? (Hamba Allah)
Jawab:
Perlu diketahui bahwa akad yang digunakan oleh Bank Muamalat tersebut bukanlah akad qardh (pinjaman) semata, melainkan gabungan akad qardh (pinjaman) dan akad ijārah (jasa). Dasarnya adalah Fatwa DSN MUI (Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia) Nomor 29/DSN-MUI/VI/2002 yang mengatur ketentuan Pembiayaan Pengurusan Haji oleh LKS (Lembaga Keuangan Syariah). Fatwa ini menetapkan kebolehan pembiayaan haji melalui akad al-qardh dan al-ijārah, asalkan terbebas dari unsur riba dan disesuaikan dengan kemampuan pelunasan oleh nasabah.
Jadi dalam Fatwa DSN MUI Nomor 29/DSN-MUI/VI/2002 tersebut, ada dua akad yang digabungkan menjadi satu kesatuan secara mengikat (mulzim), yaitu :
Pertama, Akad Al-Qardh (Pinjaman): Akad ini digunakan oleh LKS untuk memberikan pinjaman dana talangan kepada nasabah guna pelunasan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH), sesuai dengan Fatwa DSN-MUI Nomor 19/DSN-MUI/IV/2001.
Kedua, Akad Al-Ijārah (Jasa): Akad ini digunakan untuk menetapkan biaya atau imbalan jasa pengurusan haji yang diberikan oleh pihak LKS kepada nasabah, sesuai dengan Fatwa DSN-MUI Nomor 9/DSN-MUI/IV/2000.
Menurut kami, Fatwa DSN MUI Nomor 29/DSN-MUI/VI/2002 tersebut, yang menetapkan kebolehan pembiayaan haji melalui akad al-qardh dan al-ijārah, adalah fatwa yang batil dan tidak halal diamalkan oleh kaum muslimin, dengan dua alasan pokok sebagai berikut;
Pertama, Syariah Islam secara umum telah mengharamkan penggabungan dua akad menjadi satu akad secara mulzim (mengikat, binding).
Kedua, Syariah Islam secara khusus telah mengharamkan penggabungan akad sosial (tabarru’) seperti qardh (pinjaman) dengan akad komersial (mu’āwadhah/tijārah). Uraiannya secara rinci sebagai berikut;
Alasan Pertama, Syariah Islam secara umum telah mengharamkan penggabungan dua akad menjadi satu akad secara mulzim (mengikat).
Dalam Fatwa DSN MUI Nomor 29/DSN-MUI/VI/2002 yang mengatur ketentuan Pembiayaan Pengurusan Haji oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS), telah terjadi penggabungan dua akad menjadi satu akad secara mulzim (mengikat), yaitu akad qardh (pinjaman) dengan akad ijārah (jasa) secara mengikat (mulzim), yaitu diwajibkan/disyaratkan bagi para nasabah (calon jamaah haji).
Padahal telah terdapat hadits-hadits Nabi SAW yang mengharamkan adanya dua akad yang digabungkan menjadi satu akad secara mengikat. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ūd RA, dia berkata :
نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَفْقَتَيْنِ فِي صَفْقَةٍ وَاحِدَةٍ
“Nabi SAW telah melarang dua kesepakatan dalam satu kesepakatan (shafqataini fī shafqatin wāhidatin).” (HR. Ahmad, no. 3.783: Al-Bazzār, no. 2017; Al-Baihaqi, no. 10.994, hadits shahih).
Imam Taqiyuddīn An-Nabhānī dalam kitabnya Al-Syakhshiyyah Al-Islāmiyyah Juz II menjelaskan hadits tersebut dengan berkata :
فَالْمُرَادُ مِنْهُ وُجُودُ عَقْدَيْنِ فِي عَقْدٍ وَاحِدٍ كَأَنْ يَقُولَ: بِعْتُك دَارِيْ هَذِهِ عَلَى أَنْ أَبِيْعَكَ دَارِي الْأُخْرَى بِكَذَا، أَوْ عَلَى أَنْ تَبِيْعَنِيْ دَارَكَ، أَوْ عَلَى أن تُزَوِّجَنِيْ بِنْتَكَ. فَهَذَا لَا يَصِحُّ لِأَنَّ قَوْلَهُ بِعْتُكَ دَارِي هَذِهِ عَقْدٌ، وَقَوْلَهُ عَلَى أَنْ تَبِيعَنِيْ دَارَكَ عَقْدٌ ثَانٍ وَاجْتَمَعَا فِي عَقْدٍ وَاحِدٍ، فَهَذَا لَا يَجُوْزُ. )الإمام تقي الدين النبهاني، الشخصية الإسلامية، ج 2 ص 308)
“Jadi yang dimaksud dengan hadits itu, adalah adanya dua akad dalam satu akad, misalnya seseorang berkata (kepada orang lain),”Saya jual kepada kamu rumahku ini, dengan syarat aku jual kepadamu rumah aku yang lain dengan harga sekian, atau dengan syarat kamu menjual kepada aku rumahmu, atau dengan syarat kamu menikahkan aku dengan anak perempuanmu.” Ini tidak boleh, karena perkataan dia,”Saya jual kepada kamu rumahku ini” adalah sebuah akad (akad pertama), dan perkataan dia,”Dengan syarat kamu menjual kepada aku rumahmu,” adalah akad yang kedua, dan kedua akad ini berkumpul menjadi satu akad (yaitu akad yang satu menjadi syarat bagi akad yang lain), maka ini tidak diperbolehkan.” (Taqiyuddīn An-Nabhānī, Al-Syakhshiyyah Al-Islāmiyyah, Juz II, halaman 308).
Berdasarkan hadits ini, berarti tidak diperbolehkan akad qardh (pinjaman) dari suatu bank syariah kepada calon jamaah haji, yang mensyaratkan / mewajibkan kepada pihak nasabah (calon jamaah haji itu) untuk melakukan akad ijārah (jasa pengurusan haji) dengan bank syariah tersebut.
Hal ini tidak diperbolehkan karena qardh itu sendiri adalah satu akad, sedangkan jasa pengurusan haji (ijārah), adalah akad yang lain, yang disyaratkan secara mengikat oleh bank syariah kepada jamaah haji yang mendapat dana pinjaman dari bank syariah tersebut.
Alasan Kedua, Syariah Islam secara khusus telah mengharamkan penggabungan akad sosial (tabarru’) seperti akad qardh (pinjaman) dengan akad komersial (mu’āwadhah/tijārah), seperti akad jual beli atau akad ijārah.
Dalam Fatwa DSN MUI Nomor 29/DSN-MUI/VI/2002 yang mengatur ketentuan Pembiayaan Pengurusan Haji oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS), telah terjadi secara khusus penggabungan akad qardh (pinjaman) sebagai akad tabbarru’ yang sifatnya sosial (untuk menolong) dengan akad komersial (untuk mendapat profit) atau disebut akad mu’āwadhah atau tijārah, seperti akad jual beli atau akad ijarah.
Dalil yang mengharamkan penggabungan akad tabarru’ seperti qardh (pinjaman) dengan akad mu’āwadhah (tijārah) seperti akad jual beli atau akad ijarah, adalah sabda Rasulullah SAW :
لاَ يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ وَلَا شَرْطَانِ فِي بَيْعٍ وَلَا رِبْحُ مَا لَمْ يَضْمَنْ وَلَا بَيْعُ مَا لَيْسَ عِندَكَ
“Tidak halal (menggabungkan) salaf (qardh/pinjaman) dengan jual beli, tidak halal adanya dua syarat dalam satu jual beli, tidak halal mendapat keuntungan tanpa adanya tanggung jawab untuk menanggung beban biaya atau kerugian, dan tidak halal pula menjual apa-apa yang tidak ada di sisimu.” (HR. Abu Dāwud, no. 3504; Al-Tirmidzi, no. 1234; dan Al-Nasā`i, no. 4611, hadits shahih).
Imam Taqiyuddīn Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Majmū’ Al-Fatāwā menjelaskan hadits tersebut dengan berkata :
مَعْنىَ الْحَدِيْثِ أَنْ لاَ يُجْمَعَ بَيْنَ مُعَاوَضَةٍ وَتَبَرُّعٍ لِأَنَّ ذَلِكَ التَّبَرُّعَ إِنَّمَا كَانَ لِأَجْلِ الْمُعَاوَضَةِ لاَ تَبَرُّعاً مُطْلَقاً فَيَصِيْرُ جُزْءاً مِنَ الْعِوَضِ. )الإمام تقي الدين ابن تيمية، مجموع الفتاوى، ج 29 ص 62)
“Makna hadits tersebut, tidak boleh digabungkan akad mu’awādhah (pertukaran/komersial) dengan akad tabarru’ (sosial) karena berarti akad tabarru’ itu ada dalam rangka untuk mendapat pertukaran, bukan dalam rangka melakukan akad tabarru’ secara mutlak (murni), sehingga akad tabarru’ itu akhirnya (berubah) menjadi akad yang mendapat imbalan.” (Ibnu Taimiyyah, Majmū’ Al-Fatāwā, Juz ke-29, halaman 62).
Berdasarkan hadits ini, berarti tidak halal (haram) hukumnya menggabungkan akad qardh (pinjaman) sebagai akad tabarru’ (sosial) dengan akad ijarah (jasa) yang merupakan akad mu’āwadhah (pertukaran) yang sifatnya komersial seperti halnya akad jual beli.
Dengan demikian, haram hukumnya apa yang dilakukan oleh Bank Muamalat ketika bank tersebut menggabungkan akad qardh (pinjaman) dengan akad ijārah (jasa), karena telah melawan hukum syariah Islam dengan menggabungkan akad tabarru’ (sosial) dengan akad mu’āwadhah (pertukaran) yang sudah diharamkan oleh Nabi SAW untuk digabungkan.
Kesimpulannya, ada 2 (dua) poin sebagai berikut;
Pertama, haram hukumnya apa yang dilakukan oleh Bank Muamalat yang menggabungkan akad pinjaman (qardh) dengan akad ijārah berupa jasa pengurusan haji;
Kedua, fatwa yang mendasari transaksi Bank Muamalat tersebut, yaitu Fatwa DSN MUI Nomor 29/DSN-MUI/VI/2002, adalah fatwa yang batil dan tidak halal diamalkan oleh kaum muslimin. Wallāhu a’lam.
Yogyakarta, 01 Juli 2026
Muhammad Shiddiq Al-Jawi






















