Home Fiqih KEMUDHARATAN AKIBAT UPAYA ISIS MENEGAKKAN KHILAFAH, TIDAK DAPAT DIGENERALISASI

KEMUDHARATAN AKIBAT UPAYA ISIS MENEGAKKAN KHILAFAH, TIDAK DAPAT DIGENERALISASI

57

Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi

 

Tanya :

Ada yang menolak Khilafah dengan alasan upaya menegakkan kembali Khilafah yang dilakukan oleh ISIS, banyak menimbulkan mafsadat atau kerusakan di muka bumi. Bagaimana pendapat Ustadz?

 

Jawab :

Memang benar bahwa dalam usahanya menegakkan kembali Khilafah, ISIS banyak menimbulkan mafsadat atau kerusakan di muka bumi, di antaranya banyak korban tewas. Menurut laporan situs New York Times, dalam kurun waktu antara 23 September 2014 – 14 Juli 2016, telah jatuh korban tewas yang dibunuh oleh ISIS sebanyak kurang lebih = 1.200 (seribu dua ratus) korban jiwa tewas. (Lihat : https://www.nytimes.com/interactive/2016/03/25/world/map-isis-attacks-around-the-world.html).

Tetapi, pertanyaan kritisnya, apakah semua harakah Islam yang memperjuangkan Khilafah otomatis juga menimbulkan korban jiwa dalam langkah perjuangannya seperti ISIS? Jawabannya, tidak.

Di sinilah kita perlu mengetahui, tidak semua harakah Islam yang pro Khilafah itu memperjuangkan Khilafah dengan jalan kekerasan (violence) atau perang (war) seperti ISIS. Paling tidak terdapat 3 (tiga) varian harakah Islam yang pro Khilafah jika ditinjau dari segi jalan (metode/tharīqah) untuk menegakkan kembali Khilafah, yaitu sebagai berikut :

Pertama, ada harakah Islam yang menegakkan Khilafah dengan jalan kekerasan (violence)/perang (war), yang diyakini oleh aktivisnya sebagai “jihad fi sabilillah,” seperti ISIS, DI/TII/NII, dsb.

Kedua, ada harakah Islam yang menegakkan Khilafah dengan jalan demokrasi, seperti Al-Ikhwanul Muslimun, FIS (Front Islamic Salvation), Masyumi, dll.

Ketiga, ada pula sebuah harakah Islam yang menegakkan Khilafah tidak dengan jalan kekerasan (violence)/perang (war), dan tidak juga dengan jalan demokrasi, tetapi dengan jalan mengemban dakwah Islam (haml al-da’wah al-islāmiyyah). (Lihat : https://nasional.tempo.co/read/738907/hti-kami-berjuang-demi-khilafah-tapi-beda-dengan-isis).

Jadi, jelas merupakan generalisasi yang sangat gegabah, jika ditarik kesimpulan umum bahwa semua harakah Islam pasti menimbulkan mafsadat atau kerusakan, hanya dari satu contoh (sample) satu harakah saja, yaitu ISIS yang terbukti menimbulkan banyak korban jiwa dalam upayanya menegakkan kembali Khilafah.

Jka ISIS menimbulkan mudharat, apakah upaya Al-Ikhwanul Muslimun yang menempuh jalan demokrasi juga menimbulkan banyak korban jiwa seperti ISIS? Apakah FIS (Front Islamic Salvation) yang menempuh jalan demokrasi juga menimbulkan banyak korban jiwa seperti ISIS? Apakah sebuah harakah yang tidak menempuh jalan perang, tidak pula menempuh jalan demokrasi serta hanya menempuh jalan dakwah (haml al-da’wah al-islāmiyyah), baik dakwah fikriyah (dakwah secara pemikiran) maupun dakwah siyasiyyah (dakwah secara politik), juga menimbulkan banyak korban jiwa seperti ISIS? Jika ada korban jiwanya, buktikan! Berapa orangkah? Di manakah? Kapankah? Tolong berikanlah datanya, janganlah berhalusinasi atau memfitnah!

Sesungguhnya generalisasi bahwa semua harakah Islam yang berjuang menegakkan Khilafah pasti menimbulkan pembunuhan, kerusakan, kekacauan, dsb hakikatnya adalah suatu kebohongan yang nyata sekaligus fitnah yang teramat keji kepada sesama muslim.

Generalisasi itu hakikatnya hanyalah bertaqlid buta kepada intelijen kafir atau lembaga think tank kafir yang menuduh sebagian harakah Islam non-kekerasan sebagai conveyor belt to terrorism (ban berjalan yang akan mengantarkan kepada aksi terorisme). (Lihat : Zeyno Baran, Hizb Ut-Tahrir: Islam’s Political Insurgency, [Washington, DC: The Nixon Center, 2004], hlm. 53).

Melakukan generalisasi seperti itu diharamkan dalam Islam, karena berarti telah memfitnah harakah Islam non-kekerasan melakukan apa yang tidak pernah mereka lakukan sama sekali. Firman Allah SWT :

وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS Al-Ahzab [33] : 58).

Kesimpulannya, kemudharatan yang timbul akibat upaya penegakan kembali khilafah oleh kelompok ISIS, tidak dapat digeneralisasi untuk semua gerakan Islam yang memperjuangkan Khilafah. Melakukan generalisasi yang gegabah seperti itu diharamkan dalam Islam, karena berarti telah memfitnah harakah Islam non-kekerasan melakukan apa yang tidak pernah mereka lakukan.

Kemudian, melanjutkan kesimpulan tersebut, jika munculnya kemudharatan (seperti pembunuhan atau korban jiwa, kerusakan aset/harta, hancurnya sarana publik, dsb) dapat dijadikan alasan penolakan suatu konsep, mestinya yang lebih layak ditolak adalah Peradaban Barat, bukan Khilafah.

Jadi, memang benar, ISIS telah menimbulkan korban jiwa dalam perjuangannya mengembalikan Khilafah. Kami sebut kembali datanya, bahwa dalam kurun waktu antara 23 September 2014 – 14 Juli 2016, korban jiwa yang tewas akibat ISIS kurang lebih sebanyak = 1.200 (seribu dua ratus) korban jiwa tewas. (Lihat : https://www.nytimes.com/interactive/2016/03/25/world/map-isis-attacks-around-the-world.html).

Dari data tersebut, jika kita mencoba menghitung rata-rata korban tewas oleh ISIS per hari, maka akan kita dapati hitungan korban per hari adalah = 1.200 orang : 665 hari (kurun waktu 23 September 2014 – 14 Juli 2016). Hasilnya adalah = 1,8 jiwa = dibulatkan 2 orang tewas per hari. Jadi korban tewas oleh ISIS per hari adalah = 2 (dua) orang per hari.

Nah, mari kita bandingkan dengan korban yang tewas akibat invasi Amerika Serikat dkk di Irak dalam kurun 19 Maret 2003 – Pertengahan 2011. Menurut laporan situs BBC, dalam kurun tersebut jumlah korban yang tewas adalah = 461.000 jiwa tewas. (Lihat : https://www.bbc.com/news/world-middle-east-24547256).

Dari data tersebut, jika dihitung korban tewas oleh Amerika Serikat dkk di Irak per hari adalah = = 461000 orang : 2830 hari (kurun 19 Maret 2003 – Pertengahan 2011). Hasilnya = 162,8 jiwa, dibulatkan 163 jiwa per hari.

Ringkasnya : ISIS membunuh 2 (dua) orang per hari, sedang Amerika Serikat dan kawan-kawan koalisinya, membunuh 163 (seratus enampuluh tiga) orang per hari.

Dari data tersebut, manakah yang lebih kejam dan biadab? Apakah yang lebih kejam adalah ISIS yang membunuh hanya 2 orang per hari, ataukah Amerika Serikat dan kawan-kawan koalisinya, yang membunuh 163 orang per hari?

Wahai orang-orang yang menolak Khilafah, jika kalian menolak Khilafah gara-gara ISIS membunuh 2 orang per hari, mengapa kalian tidak menolak Peradaban Barat di bawah Amerika Serikat yang kafir yang telah membunuh 163 orang per hari?

Mengapa kalian justru tergila-gila dan gandrung kepada Peradaban Barat yang kafir yang sebenarnya sangat kejam dan biadab itu, serta justru tega menyebar kebohongan yang nyata dan memfitnah sesama muslim? Di manakah akal sehat kalian? Di manakah hati nurani kalian? Ya Allah, Ya Robbi, masyaAllah, laa haula walaa quwwata illa billah, hasbunallahu wa ni’mal wakiil

Dalam kondisi demikian, walaupun kami heran, namun kami akhirnya menjadi insyaf dan mengerti, akan hakikat kebenaran yang sudah pernah disabdakan Rasulullah SAW, bahwa suatu saat nanti di tengah-tengah umat Islam akan muncul pemimpin-pemimpin yang sangat keji dan jahat, yang bertubuh manusia namun berhati iblis. Na’ūzhu billāh min dzālik. Rasulullah SAW bersabda :

يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ.

“Akan ada setelah aku para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula melaksanakan sunnahku. Akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati syetan, namun tubuhnya adalah tubuh manusia.” (HR. Muslim, Shahīh Muslim,  no. 1847).

 

Wallāhu a’lam.

 

Yogyakarta, 31 Maret 2023

 

Muhammad Shiddiq Al-Jawi