Home Soal Jawab Fiqih HUKUM MENGHADIRI OPEN HOUSE NATALAN

HUKUM MENGHADIRI OPEN HOUSE NATALAN

22
Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi | Pakar Fiqh Kontemporer

 

Tanya :

Assalamualaikum Ustadz, afwan mengganggu. Saya Raihan. Izin bertanya Ustadz apa hukum menghadiri open house Natalan dari orang Nasrani? Jadi kasusnya begini Ustadz, misal atasan kita seorang Nasrani lalu dia mengundang bawahannya untuk menghadiri open house di rumahnya disuruh hadir. Pelaksanaannya setelah 4 hari ibadah Natalan mereka. (Raihan, Bumi Allah).

 

Jawab :

Wa ‘alaikumus salam wr.wb.

Tidak boleh (haram) hukumnya bagi muslim menghadiri acara open house Natalan tersebut, karena kehadirannya itu termasuk merayakan hari raya kaum kafir, yang tidak boleh hukumnya bagi seorang muslim.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, dalam kitabnya Ahkām Ahli Al-Dzimmah, pada Bab Hukmu Hudhūr A’yād Ahli Al-Kitāb (Hukum Menghadiri Hari-Hari Raya Ahli Kitab), telah menjelaskan tidak bolehnya seorang muslim menghadiri hari raya kaum kafir, sebagai berikut :

وَكَمَا أَنَّهُمْ لَا يَجُوزُ لَهُمْ إِظْهَارُهُ فَلَا يَجُوزُ لِلْمُسْلِمِينَ مُمَالَأَتُهُمْ عَلَيْهِ وَلَا مُسَاعَدَتُهُمْ وَلَا الْحُضُورُ مَعَهُمْ بِاتِّفَاقِ أَهْلِ الْعِلْمِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُهُ

“Sebagaimana tidak diperbolehkan bagi mereka (Ahli Kitab) untuk memperlihatkan hal itu (hari-hari raya mereka) (kepada publik), demikian pula tidak boleh bagi umat Islam menyanjung-nyanjung mereka atas hari raya mereka itu, membantu mereka, atau hadir bersama mereka, sesuai kesepakatan para ulama yang memang ahli di bidangnya.” (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ahkām Ahli Al-Dzimmah, 1/156).

Imam Ibnu Qayyim Al_jauziyyah lalu menguraikan 2 (dua) dalil yang mengharamkan seorang muslim menghadiri hari-hari raya kaum kafir, yaitu :

Dalil Pertama, ayat Al-Qur`an yang menjelaskan ciri ‘ibādurrahmān, yang di antaranya adalah tidak menghadiri hari-hari raya kaum kafir, sesuai firman Allah SWT :

وَالَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَۙ

“Dan (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu cirinya ialah) orang-orang yang tidak menghadiri kebohongan…” (QS Al-Furqan [25] : 72).

Kalimat “lā yasyhadūna az-zūr” dalam ayat itu menurut Ibnu Taimiyah maknanya yang tepat adalah “tidak menghadiri kebohongan (az-zūr)”, bukan “tidak memberikan kesaksian palsu” (sebagaimana terjemahan Kementerian Agama RI).

Sedang kata “az-zūr” itu sendiri oleh sebagian tabi’in seperti Mujahid, adh-Dhahak, Rabi’ bin Anas, dan Ikrimah artinya adalah hari-hari raya kaum musyrikin (a’yād al-musyrikin) atau hari-hari raya kaum jahiliyah sebelum Islam. (Imam Jalāluddīn Suyūthi, Al-Amru bi Al-Ittibā’ wa An-Nahyu ’An Al-Ibtidā` (terj.), hlm. 91-95; M. Bin Ali Adh-Dhabi’i, Mukhtārāt Iqtidhā` Shirāthal Mustaqīm (terj.), hlm. 59-60).

Jadi, ayat di atas adalah dalil haramnya seorang muslim untuk ikut merayakan hari-hari raya agama lain (selain Islam), seperti hari raya Natal, Waisak, Paskah, Imlek, dan sebagainya.

Dalil Kedua, dalil yang melarang seorang muslim untuk menyerupakan dirinya dengan kaum kafir (tasyabbuh bil kuffār) pada hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka, seperti hari-hari raya mereka.

Dalil haramnya tasyabbuh bil kuffār (menyerupai kaum kafir) adalah sabda Nabi SAW :

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Abu Dawud).

Demikianlah dua dalil yang dikemukan dan diuraikan oleh Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah yang menjadi dasar keharaman seorang muslim untuk ikut merayakan hari-hari raya kaum kafir.” (Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Ahkām Ahli Al-Dzimmah, 1/156-157).

Berdasarkan penjelasan di atas, jelaslah bahwa tidak boleh atau haram hukumnya seorang muslim menghadiri acara open house Natalan yang ditanyakan di atas, walaupun tidak bertepatan dengan tanggal 25 Desember, karena kehadiran seorang muslim dalam open house Natalan itu, termasuk merayakan hari raya kaum kafir yang telah diharamkan dalam Syariah Islam. Wallāhu a’lam.

 

Jakarta, 29 Desember 2023
Muhammad Shiddiq Al-Jawi