Home Soal Jawab Fiqih BENARKAH ADA IJMA’ ULAMA BOLEH LEBIH DARI SATU IMAM (KHALIFAH)?

BENARKAH ADA IJMA’ ULAMA BOLEH LEBIH DARI SATU IMAM (KHALIFAH)?

17
Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi | Pakar Fiqih Kontemporer

 

Tanya :

Ustadz, seorang ustadz bilang, ada ijma’ bahwa boleh hukumnya berbilangnya imam (khalifah), atau istilah Arabnya ta’addud al-khulafa`, sehingga konsekuensinya banyaknya berbagai negeri Islam saat ini, misalnya ada Arab Saudi, Mesir, Yordania, Malaysia, Indonesia, dan sebagainya, merupakan hal yang dibolehkan syara’. Bagaimana menurut Ustadz? (Hamba Allah).

 

Jawab :

Tidak benar ada ijma’ ulama bahwa boleh ta’addud al-khulafa`, yaitu boleh berbilangnya imam (khalifah) atau adanya lebih dari satu Imam (khalifah). Yang ada justru sebaliknya, yaitu ijma’ ulama bahwa tidak boleh ta’addud al-khulafa`. Buktinya adalah kutipan-kutipan pendapat ulama sebagai berikut :

Pertama, Imam Al-Mawardi (w. 450 H) berkata :

فَأَماَّ إِقاَمَةُ إِماَمَيْنِ أَوْ ثَلاَثَةٍ فَيْ عَصْرٍ وَاحِدٍ، وَبَلَدٍ وَاحِدٍ فَلاَ يَجُوْزُ إِجْماَعاً. (الإمام الماوردي، أدب الدنيا والدين ص 84).   

“Adapun mengangkat dua orang Imam (Khalifah) atau tiga orang pada masa yang sama dan di negeri yang sama, maka tidak boleh hukumnya menurut Ijma’ (kesepakatan ulama).” (Imam Mawardi, Adab Al-Dun-yā wa Al-Dīn, hlm. 84)

Kedua, Imam Ibnu Hazm (w. 456 H) berkata :

اِتَّفَقُوْا أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ أَنْ يَكُوْنَ عَلىَ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ وَقْتٍ وَاحِدٍ فِيْ جَمِيْعِ الدُّنْياَ إِماَماَنِ، لاَ مُتَّفِقاَنِ وَلاَ مُتَفَرِّقاَنِ، وَلاَ فِيْ مَكاَنَيْنِ وَلاَ فِيْ مَكاَنٍ وَاحِدٍ. (الإمام ابن حزم، مراتب الإجماع ص 144).

“Mereka (ulama) telah sepakat bahwa tidak boleh kaum muslimin pada waktu yang sama di seluruh dunia mempunyai dua Imam, baik keduanya sepakat maupun bertentangan, baik di dua tempat maupun di satu tempat.” (Imam Ibnu Hazm, Marātibul Ijmā’, hlm. 144).

Ketiga, Imam Al-Juwaini (w. 478 H) berkata :

أَنَّ عَقْدَ اْلإِماَمَةِ لِشَخْصَيْنِ فِيْ صُقْعٍ وَاحِدٍ مُتَضاَيِقِ الْخُطَطِ وَالْمَخاَلِفِ غَيْرُ جَائِزٍ وَقَدْ حَصَلَ اْلإِجْماَعُ عَلَيْهِ. (الإمام الجويني، الإرشاد إلى قواطع الأدلة في اصول الإعتقاد ص 425).

“Sesungguhnya melakukan akad Imamah (Khilafah) bagi dua orang pada satu tempat yang berdekatan garis-garisnya dan batas-batasnya adalah tidak boleh, sungguh telah terwujud ijma’ (kesepakatan ulama) mengenai hal ini.” (Imam Al-Juwaini, Al-Irsyād ilā Qawāthi’ Al-Adillah fī Ushūl Al-I’tiqād, hlm. 425).

Keempat, Imam Ibnul Qaththan (w. 628 H) berkata :

وَاتَّفَقُوْا أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ أَنْ يَكُوْنَ عَلىَ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ وَقْتٍ وَاحِدٍ فِيْ جَمِيْعِ (أَقْطَارِ اْلأَرْضِ) إِماَماَنِ مُتَّفِقاَنِ وَلاَ مُفْتَرِقاَنِ، وَلاَ فِيِ مَكاَنَيْنِ وَلاَ فِيْ مَكاَنٍ وَاحِدٍ.(علي بن محمد بن عبد الملك ابن القطان ،الإقناع في مسائل الإجماع ج 1 ص 20).

“Mereka (ulama) telah sepakat bahwa tidak boleh kaum muslimin pada waktu yang sama di seluruh negeri di bumi, mempunyai dua Imam, baik keduanya sepakat maupun bertentangan, baik di dua tempat maupun di satu tempat.” (Imam Ibnul Qaththan, Al-Iqnā’ fī Masā`il Al-Ijmā’, 1/20)

Kelima, Imam Nawawi (w. 678 H) berkata :

وَاتَّفَقَ الْعُلَماَءُ أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ أَنْ يُعْقَدَ لِخَلِيْفَتَيْنِ فِيْ عَصْرٍ وَاحِدٍ، سَواَءٌ اِتَّسَعَتْ دَارُ اْلإِسْلاَمِ أَمْ لاَ.)الإمام النووي، شرح صحيح مسلم، ج 8 ص 40-41).

“Para ulama telah sepakat bahwa tidak boleh dilakukan akad untuk dua orang Khalifah (Imam) pada waktu yang sama, sama saja apakah Darul Islam luas ataukah tidak.” (Imam Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 8/40-41).

 Keenam, Syekh Abdurrahman Al-Jaziri (w. 1360 H) berkata :

إِتَّفَقَ اْلأَئِمَّةُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ أَنَّ اْلإِمَامَةَ فَرْضٌ وَأَنَّهُ لاَ بُدَّ لِلْمُسْلِمِيْنَ مِنْ إِمَامٍ يُقِيْمُ شَعَائِرَ الدِّيْنِ وَيُنْصِفُ الْمَظْلُوْمِيْنَ مِنَ الظَّالِمِيْنَ وَعَلىَ أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ أَنْ يَكُوْنَ عَلىَ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ وَقْتٍ وَاحِدٍ فِيْ جَمِيْعِ الدُّنْيَا إِمَامَانِ لاَ مُتَّفِقَانِ وَلاَ مُفْتَرِقَانِ.( عبد الرحمن الجزري، الفقه على المذاهب الأربعة ج 5 ص 366).

”Telah sepakat para imam (yang empat; yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad) bahwa Imamah (Khilafah) adalah fardhu; dan bahwa tak boleh tidak kaum muslimin harus mempunyai seorang Imam yang menegakkan syiar-syiar agama dan melindungi orang-orang yang dizhalimi dari orang-orang zhalim; dan bahwa tak boleh kaum muslimin pada waktu yang sama di seluruh dunia mempunyai dua Imam, baik keduanya sepakat maupun bertentangan.” (Abdurrahman Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, V/366).

Kesimpulan, dari kutipan pendapat para ulama di atas, terbukti bahwa sungguh tidak benar ada ijma’ ulama bahwa boleh ta’addud al-khulafa`, yaitu boleh berbilangnya imam (khalifah) atau adanya lebih dari satu Imam (khalifah) pada waktu yang sama di seluruh dunia. Yang benar justru sebaliknya, yaitu ijma’ ulama bahwa tidak boleh ta’addud al-khulafa`, yakni tidak boleh ada lebih dari satu Imam (khalifah) pada waktu yang sama di seluruh dunia. Wallahu a’lam.

 

Takengon, 27 Juni 2024
Muhammad Shiddiq Al-Jawi