Home Fiqih Fiqih Muamalah MUZAKKI BERZAKAT KEPADA ORANG TUA SISWA YANG PUNYA TUNGGAKAN UTANG SPP ANAKNYA,...

MUZAKKI BERZAKAT KEPADA ORANG TUA SISWA YANG PUNYA TUNGGAKAN UTANG SPP ANAKNYA, BOLEHKAH?

1
Oleh : KH. M. Shiddiq Al-Jawi | Pakar Fiqih Kontemporer

 

Tanya :

Ustadz, ada seorang muzakki yang menyerahkan zakal malnya melalui sekolah saya di Tangerang Selatan. Saya adalah pengurus Yayasan di sekolah tersebut. Maka saya berencana akan menyalurkan zakat itu kepada para gharimin (orang tua siswa) yang tunggakan biaya pendidikan anaknya besar. Dengan maksud mengurangi beban utangnya. Apakah boleh saya langsung masukkan zakat mal itu ke kas sekolah dan langsung memotong utang orang tua siswa tersebut? (Hamba Allah, Tangerang Selatan).

 

Jawab :

Hukumnya tidak boleh jika zakat tidak pernah diserahkan kepada mustahiq dan langsung disalurkan dengan cara memotong utang pihak mustahiq.

Hal ini karena dalam proses tersebut tidak terjadi proses perpindahan hak milik (tamlīk) dari muzakki kepada mustahiq zakat, yang ditandai dengan al-qadbh (penerimaan zakat oleh pihak mustahiq) yang seharusnya terjadi menurut syara’. (Imam Nawawi, Al-Majmū’ Syarah Al-Muhadzdzab, 6/196-197).

Jadi berikan dulu dengan cara mentransfer uang zakat kepada para mustahiq tanpa mensyaratkan atau mewajibkan mereka untuk menggunakan uang itu untuk membayar utang kepada sekolah.

Adapun kalau uang itu sudah diserahkan oleh muzakki kepada mustahiq (sudah terjadi tamliik), yang ditandai dengan al-qabdh (penerimaan oleh mustshiq), lalu mustahiq dengan sukarela membayar utangnya dgn uang itu, tidak masalah dan boleh hukumnya menurut syara’.

Imam Nawawi dalam masalah ini menjelaskan :

أَمَّا إِذَا دَفْعُ الزَّكَاةِ إِلَيْهِ بِشَرْطٍ أَن يَرُدَّهَا إِلَيْهِ عَن دِينِهِ ، فلَا يَصِحُّ الدَّفْعُ ولَا تَسْقُطُ الزَّكَاةُ بِالْاِتِّفَاقِ ، ولَا يَصِحُّ قَضَاءُ الدَّيْنِ بذَلِك بِالْاِتِّفَاقِ ، ولَو نَوَيَا ذَلِك ولَم يُشَرِّطَاهُ جَازَ بِالْاِتِّفَاقِ وَأَجْزَأُهُ عَن الزَّكَاةِ ، وإِذَا رَدَّهُ إِلَيْهِ عَن الدِّينِ بَرِئَ مِنْهُ.

“Adapun jika seorang muzakki membayar zakat kepada mustahiq dengan syarat agar mustahiq itu membayar utangnya kepada muzakki dengan zakat itu, maka tidak sah zakatnya dan tidak gugur pula utangnya menurut kesepakatan para ulama. Tapi kalau kedua pihak meniatkan hal itu (dalam hati) tetapi keduanya tidak mensyaratkan (secara lisan), boleh hukumnya menurut kesepakatan ulama, dan dianggap muzakki sudah membayar zakatnya. Jika kemudian mustahiq membayar utangnya dengan zakat itu, maka gugurlah utangnya.” (Imam Nawawi, Al-Majmū’ Syarah Al-Muhadzdzab, 6/197).

Mungkin ada pertanyaan, apakah dibolehkan jika semisal pihak muzakki menyampaikan dulu kepada orang tua murid (mustahiq zakat) itu dan menyarankan kepada mereka untuk membayar utangnya dan orang tua tersebut menyetujui ? Jawabannya, boleh asalkan perkataan dari muzakki itu sekedar menyarankan bukan mensyaratkan atau mewajibkan pihak mustahiq untuk menggunakan uang zakat yang diterimanya untuk membayar utang.

Sebagai penutup, menurut kami sebaiknya wakil muzakki itu tidak ada hubungan utang piutang dengan pihak mustahiq zakat. Karena jika ada hubungan utang piutang, ada kecenderungan wakil muzakki akan memanfaatkan amanah zakat itu agar dia mendapat pelunasan utang dari pihak mustahiq zakat, tanpa terjadi lebih dulu tamlīk (perpindahan hak milik uang zakat dari muzakki kepada mustahiq). Wallāhu a’lam.

 

Yogyakarta, 11 Maret 2026

Muhammad Shiddiq Al-Jawi