Oleh: KH. M. Shiddiw Al-Jawi | Pakar Fiqih Kontemporer
Tanya :
Ustadz, bagaimana kalau seseorang lupa berapa hari utang puasa yang belum dibayar, bagaimanakah cara dia menentukan jumlah harinya yang harus dia qadha`? (Hamba Allah).
Jawab :
Terdapat 4 (empat) hukum syara’ yang berkaitan dengan kondisi muslim tersebut;
Pertama, wajib hukumnya muslim tersebut bertaubat kepada Allah karena telah berdosa dengan menunda membayar utang puasanya (ta`khīr al-qadhā`) tanpa suatu udzur syar’i, hingga datang bulan Ramadhan berikutnya. Adapun jika penundaan qadha` puasa itu karena suatu udzur syar’i, misalnya karena sakit, karena perjalanan (safar), karena hamil dan menyusui bagi wanita, dsb, maka tidak apa-apa (tidak berdosa).
Menurut pendapat yang rājih (lebih kuat) dari jumhur ulama, penundaan qadha` itu selambat-lambatnya adalah hingga bulan Sya’ban dan tidak boleh sampai masuk bulan Ramadhan berikutnya. Dalilnya hadits dari ‘A`isyah RA, bahwa dia telah berkata :
كَانَ يَكُوْنُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِن رَمَضَانَ، فَما أَسْتَطِيْعُ أَنْ أَقْضِيَهُ إلَّا فِيْ شَعْبَانَ
“Aku tidaklah meng-qadha` sesuatu pun dari apa yang wajib atasku dari bulan Ramadhan, kecuali di bulan Sya’ban hingga wafatnya Rasulullah SAW.” (HR. Bukhari, no. 1950; Muslim, no. 1946; Tirmidzi, no. 783). (Mahmūd Abdul Lathīf ‘Uwaidhah, Al-Jāmi’ li Ahkām Al-Shiyām, hlm. 122).
Kedua, cara menghitung jumlah hari yang wajib diqadha`, cukuplah muslim itu menghitungnya berdasarkan dugaan kuat (ghalabath al-zhann) غَلَبَةُ الظَّنِّ jika tidak diketahui jumlah harinya secara pasti. Hal ini karena dalam hukum-hukum syara’, sah hukumnya beramal berdasarkan dugaan kuat (ghalabath al-zhann), sebagaimana penjelasan para ulama.
Imam Al-Mūshilī (ulama mazhab Hanafi) berkata :
غَلْبَةُ الظَّنِّ دَلِيْلٌ فِي الشَّرْعِيَّاتِ لَا سِيَّمَا عِنْدَ تَعَذُّرِ الْيَقِيْنِ
”Dugaan kuat merupakan dalil dalam (pengamalan) hukum-hukum syariah, terutama ketika tidak ada kepastian.” (ghalabath al-zhann dalīl fī syar’iyyāt wa lā siyyamā ‘inda ta’adzdzur al-yaqīn). (Imam Al-Mūshilī, Al-Ikhtiyār li Ta’līl Al-Mukhtār, 1/36).
Ibnu Rusyd (ulama mazhab Maliki) berkata :
اَلْأَصْلُ فِي الْأَحْكَامِ الظَّاهِرَةِ غَلَبَةُ الظُّنُوْنِ
”Hukum asal dalam hukum-hukum syara’ yang zhahir, adalah dugaan kuat.” (al-ashlu fī al-ahkām al-zhāhirah ghalabath al-zhunūn). (Ibnu Rusyd, Al-Bayān wa Al-Tahshīl, 13/26).
Imam Al-Ghazālī (ulama mazhab Syafi’i) berkata :
اَلْمَطْلُوْبُ غَلَبَةُ الظَّنِّ
”Yang dituntut (dalam pengamalan hukum syara’) adalah dugaan kuat.” (al-mathlūb ghalabath al-zhann). (Imam Al-Ghazālī, Al-Wasīth fī Al-Madzhab, 4/334).
Syekh Ibnu ‘Utsaimin (ulama mazhab Hambali) berkata :
مَنْ كَانَ عِنْدَهُ غَلَبَةُ ظَنٍّ فِيْ أَمْرٍ مِنْ أُمُوْرِ الْعِبَادَةِ، فَإِنَّهُ يَتَّبِعُ غَلَبَةَ الظَّنِّ
”Barangsiapa yang mempunyai dugaan kuat dalam satu urusan dari urusan-urusan ibadah, maka hendaklah dia mengikuti dugaan kuat itu.” (man kānat ‘indahu ghalabat al-zhann fī amrin min umūr al-‘ibādah fainnahu yattabi’u ghalabath al-zhann). (Ibnu ‘Utsaimin, Al-Syarh Al-Mumti’ ‘Alā Zād Al-Mustaqni’, 2/282).
Ketiga, jika muslim itu ragu (syakk) apakah utang puasanya lima hari atau enam hari, misalnya, maka hendaklah dia mengambil bilangan yang diyakininya, yaitu yang lebih sedikit (al-aqallu) yaitu lima hari. Syekh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan jika seseorang ragu apakah dia berutang puasa lima atau enam hari, maka ambillah yang lebih sedikit, yaitu lima hari, karena itulah bilangan yang diyakini, sedang enam hari bilangan yang diragukan (masykūk). Namun demi kehati-hatian (ihtiyāth) maka ambillah enam hari. (Ibnu ‘Utsaimin, Fatāwa Manār Al-Islām, hlm. 350-351).
Keempat, apakah penundaan qadha` ini disertai dengan fidyah, pendapat yang rājih adalah hanya wajib qadha`, tidak wajib disertai fidyah. Imam Syaukānī telah merajihkan pendapat ini dengan berkata,”…telah kami jelaskan bahwa tidak terbukti dalam masalah itu (fidyah) satu pun (hadits shahih) dari Nabi SAW.” (Imam Syaukānī, Nailul Authār, hlm. 872). Syekh Yūsuf Qaradhāwī meriwayatkan tarjih serupa dari Syekh Shiddīq Hasan Khān dalam kitabnya Al-Raudhah Al-Nādiyah (1/232),”…tidak terbukti dalam masalah itu (fidyah) sesuatu pun (hadits shahih) dari Nabi SAW.” (Yūsuf Qaradhāwī, Fiqhush Shiyām, hlm. 64). Wallāhu a’lam.
Yogyakarta, 16 Februari 2026
Muhammad Shiddiq Al-Jawi


























